<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Warta Ahmadiyah &#187; JokoWi</title>
	<atom:link href="/tag/jokowi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warta-ahmadiyah.org</link>
	<description>Serba Serbi Jamaah Muslim Ahmadiyah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Feb 2015 05:21:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=4.1.1</generator>
	<item>
		<title>Catatan The Wahid Institute tentang potret kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/catatan-the-wahid-institute-tentang-potret-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/catatan-the-wahid-institute-tentang-potret-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2014 01:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[GKI Yasmin]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Pos]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[KBB]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Komnas HAM]]></category>
		<category><![CDATA[M Imdadun Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[Wahid Institute]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3344</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;Hingga saat ini, ratusan warga Syiah dan Ahmadiyah masih menjadi pengungsi, setelah keyakinan mereka ditolak warga di kampung halaman mereka,&#8221; ujarnya istri politikus Gerindra Dhohir Farizi itu. Lebih Mudah Dirikan Diskotek daripada Tempat Ibadah Jawa Pos ¦ 30 Desember 2014, 05:07 WIB GAMBAR: BANYAK PELANGGARAN: Yenny Wahid dalam keterangan pers di kantor The Wahid Institute, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/catatan-the-wahid-institute-tentang-potret-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-di-indonesia/">Catatan The Wahid Institute tentang potret kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/" rel="bookmark" title="Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama </a></li>
<li><a href="/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/" rel="bookmark" title="Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas">Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas </a></li>
<li><a href="/wahid-institute-luncurkan-laporan-tahunan-kebebasan-beragama-2013/" rel="bookmark" title="The Wahid Institute luncurkan Laporan Tahunan Kebebasan Beragama 2013">The Wahid Institute luncurkan Laporan Tahunan Kebebasan Beragama 2013 </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Hingga saat ini, ratusan warga Syiah dan Ahmadiyah masih menjadi pengungsi, setelah keyakinan mereka ditolak warga di kampung halaman mereka,&#8221; ujarnya istri politikus Gerindra Dhohir Farizi itu.</p></blockquote>
<p>Lebih Mudah Dirikan Diskotek daripada Tempat Ibadah</p>
<p><a href="http://www.jawapos.com/baca/artikel/10893/Catatan-The-Wahid-Institute-tentang-Potret-Kebebasan-Beragama-dan-Berkeyakinan-di-Indonesia"><strong>Jawa Pos</strong></a> ¦ 30 Desember 2014, 05:07 WIB</p>
<p>GAMBAR: <em>BANYAK PELANGGARAN: Yenny Wahid dalam keterangan pers di kantor The Wahid Institute, Jakarta, Senin (29/12). (M. Ali/Jawa Pos)</em></p>
<p><strong>Laporan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB) masih mewarnai sejumlah wilayah di Indonesia. Data yang dirangkum The Wahid Institute menyebutkan, masih ditemukan intoleransi di 18 provinsi di Indonesia.</strong></p>
<p><strong>DIREKTUR</strong> The Wahid Institute Zannuba Arifah Chafsoh Wahid atau Yenny Wahid menyatakan, pihaknya merekam peristiwa-peristiwa yang terkait KBB selama 2014. Sebagian temuan merupakan kasus lama atau menahun yang tidak terselesaikan.</p>
<p>’’Kami tidak bisa menyimpulkan peristiwa-peristiwa pelanggaran KBB hanya terjadi di wilayah itu. Keterbatasan jaringan yang kami miliki mengakibatkan wilayah lain tidak terpantau dengan maksimal,’’ ujar Yenny dalam keterangan pers di kantor The Wahid Institute, Jakarta, Senin (29/12).</p>
<p>Sebanyak 18 wilayah yang menjadi cakupan Wahid Institute meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Maluku Utara, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, dan Papua.</p>
<p>Total temuan pelanggaran KBB sepanjang 2014 adalah 158 kasus. Putri kedua mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu menyebut, dari sisi pelaku, negara sebagai aktor pelanggaran KBB tercatat di 80 kasus. Di 78 kasus lainnya dilakukan aktor non-negara. Keterlibatan negara muncul karena pemerintah setempat atau aparat keamanan ikut mengambil keputusan saat pelaku intoleran melaporkan kelompok minoritas yang dinilai mengganggu lingkungannya.</p>
<p>’’Secara umum, angka pelanggaran KBB ini menurun. Pada 2013, The Wahid Institute mencatat 245 kasus. Namun, angka ini tidak menunjukkan adanya peningkatan tanggung jawab negara dalam menyelesaikan masalah mendasar dari KBB,’’ kata mantan Sekjen DP PKB tersebut.</p>
<p>Yenny menyatakan, turunnya angka pelanggaran KBB bisa disebabkan berbagai faktor. Pada 2014, terjadi momen pemilu legislatif dan pemilu presiden. Isu intoleransi tidak menjadi fokus utama pemberitaan media massa, di mana salah satu sumber riset The Wahid Institute berasal dari situ. ’’Hal ini mengakibatkan isu kebebasan beragama menjadi berkurang,’’ ujarnya.</p>
<p>Yenny mengungkapkan, kontribusi pemerintah sebagai aktor pelanggaran KBB terlihat dari masih banyaknya ratusan perundang-undangan yang diskriminatif dan bertentangan dengan konstitusi, serta belum adanya penegakan hukum yang <em>fair </em>dan adil. Sejumlah aktor non-negara yang menjadi pelaku pelanggaran KBB juga tidak diselesaikan sesuai hukum yang ada.</p>
<p>&#8220;Hingga saat ini, ratusan warga Syiah dan Ahmadiyah masih menjadi pengungsi, setelah keyakinan mereka ditolak warga di kampung halaman mereka,&#8221; ujarnya istri politikus Gerindra Dhohir Farizi itu.</p>
<p>Yenny menyatakan, selama era pemerintahan SBY, sudah ada sejumlah langkah yang dilakukan. Kini, di era pemerintahan Joko Widodo, Yenny mencatat betul ada visi misi dalam nawa cita yang ingin menghapus regulasi yang berpotensi melanggar HAM kelompok rentan. Pemerintahan Jokowi juga berjanji memberikan jaminan perlindungan dan kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta melakukan langkah hukum terhadap pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama.</p>
<p>’’Janji tersebut harus betul-betul dibuktikan dalam bentuk tindakan nyata. Sejauh ini, belum ada kebijakan langsung atas keduanya,’’ kata alumnus <em>Harvard</em>’s Kennedy School of Government tersebut.</p>
<p>Wakil Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat di tempat yang sama menyatakan, fakta-fakta yang ditemukan The Wahid Institute terkonfirmasi oleh Komnas HAM. Imdadun menilai, pelanggaran KBB terjadi karena ada kecenderungan negara memihak kepada kelompok yang dominan, dibanding kelompok minoritas yang memiliki agama/kepercayaan yang spesifik. ’’Apa yang terjadi selama ini cenderung bukan menangkap pelaku kekerasan, tapi menangkap si korban,’’ kata Rahmat.</p>
<p>Menurut Rahmat, dari sisi non-negara, inisiatif kekerasan muncul dari kelompok dominan. Mereka melakukan kekerasan kepada korban, mendemo pemerintah daerah, kemudian terjadi lobi. ’’<em>Actor state </em>(pelaku negara, Red) kemudian tersandera, memaksa pemerintah melakukan penyegelan, pembubaran, seperti menjalankan order dari kelompok non pemerintah,’’ kata Rahmat.</p>
<p>Rahmat menilai, catatan tersebut harus menjadi evaluasi dan perbaikan bersama. Dia meminta kepada seluruh pihak untuk mengawasi perilaku elite politik dalam memperlakukan kelompok intoleran. Kelompok minoritas yang menjadi korban diharapkan bisa memperkuat dirinya. ’’Saya sedih melihat elite politik menggandeng kelompok intoleran. Yang terjadi kemudian adalah impunitas terhadap kelompok tertentu,’’ ujarnya.</p>
<p>Salah satu ironi pelanggaran KBB adalah sulitnya pendirian rumah ibadah di wilayah tertentu. Kasus GKI Yasmin di Bogor bisa menjadi contoh. Menurut Rahmat, hal itu merupakan sebuah ironi. ’’Kita hidup di negara Pancasila. Namun, mendirikan <em>night club</em> dan diskotek lebih mudah daripada pendirian rumah ibadah,’’ jelasnya.</p>
<p>Rahmat menambahkan, salah satu kesalahan negara saat ini adalah kewajiban sebuah negara untuk membela agama. Paradigma itu keliru. Sebab, negara seharusnya melindungi hak warga negaranya dalam hal kebebasan beragama dan memeluk keyakinan.</p>
<p>’’Kita perlu bahwa negara tidak menempatkan diri sebagai pembela agama. Negara tidak bisa secara langsung membatasi, bahkan melarang, terhadap sebuah keyakinan/agama,’’ tegasnya.<strong>(trimujokobayuaji/c17/tom)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/catatan-the-wahid-institute-tentang-potret-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-di-indonesia/">Catatan The Wahid Institute tentang potret kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/" rel="bookmark" title="Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama </a></li>
<li><a href="/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/" rel="bookmark" title="Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas">Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas </a></li>
<li><a href="/wahid-institute-luncurkan-laporan-tahunan-kebebasan-beragama-2013/" rel="bookmark" title="The Wahid Institute luncurkan Laporan Tahunan Kebebasan Beragama 2013">The Wahid Institute luncurkan Laporan Tahunan Kebebasan Beragama 2013 </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/catatan-the-wahid-institute-tentang-potret-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2014 23:40:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Satu]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[GKI Yasmin]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HKBP Filadelfia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[menteri agama]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Dalam Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[Wahid Institute]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3341</guid>
		<description><![CDATA[<p>SELANJUTNYA Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut Jamaah Ahmadiyah; serta Peraturan bersama Menteri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukuman umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Berita Satu ¦ [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/">Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/" rel="bookmark" title="Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>SELANJUTNYA Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut Jamaah Ahmadiyah; serta Peraturan bersama Menteri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukuman umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat.</p></blockquote>
<p><a href="http://m.beritasatu.com/politik/236727-wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas.html">Berita Satu</a> ¦ Senin, 29 Desember 2014 | 16:40</p>
<p>GAMBAR: <em>Jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin melakukan ibadah Natal di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (25/12).</em></p>
<p><strong>Jakarta-</strong>Wahid Institute mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk memperbaiki atau menghapus undang-undang yang bersifat diskriminatif.</p>
<p>Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menengarai salah satu akar masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah masih berlakunya regulasi diskriminatif terhadap kaum minoritas.</p>
<p>&#8220;Kami berkesimpulan, ketegasan pemimpin memiliki korelasi langsung dengan sikap tolerasi di daerah. Ketika pemimpin memberikan rambu-rambu terhadap apa yang disebut intoleransi, maka masyarakat akan mematuhinya. Tapi kalau abai ini menjadikan tafsir intoleransi semena-mena, sehingga pemimpin menjadi faktor penting,&#8221; katanya kepada wartawan di Jakarta Pusat, Senin (29/12).</p>
<p>Pemimpin, dalam hal ini pemerintah dan DPR, kata Yenni, dapat diukur ketegasannya saat menjalankan fungsi pengawasan dan evaluasi pelaksanaan UU daerah yang terkait urusan beragama.</p>
<p>&#8220;Kami misalnya, mencatat dalam visi-misi yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla, atau yang dikenal dengan Nawacita, mereka berjanji menghapus regulasi yang berpotensi melanggar hak asasi manusia (HAM) kelompok rentan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Di luar itu, Yenny menilai, pemerintah Jokowi-JK sudah menunjukkan langkah positif untuk menumbuhkan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia, di antaranya rencana Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin membentuk UU tentang kebebasan dan kerukunan umat beragama.</p>
<p>Yenny menyebutkan, ada beberapa UU yang masih memiliki substansi diskriminatif di antaranya UU Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama; UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan.</p>
<p>Selanjutnya Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut Jamaah Ahmadiyah; serta Peraturan bersama Menteri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukuman umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat.</p>
<p>Penulis: <strong>Hizbul Ridho/WBP</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/">Wahid Institute desak pemerintah perbaiki regulasi diskriminatif bagi minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/" rel="bookmark" title="Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/wahid-institute-desak-pemerintah-perbaiki-regulasi-diskriminatif-bagi-minoritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2014 10:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka.com]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3339</guid>
		<description><![CDATA[<p>Senin, 29 Desember 2014 15:02:34 Reporter: Faiq Hidayat Merdeka.com &#8211; Direktur Wahid Institute, Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau akrab disapa Yenny Wahid, menilai janji presiden Jokowi-Jusuf Kalla yang ingin menghapus regulasi yang berpotensi melanggar hak asasi manusia belum dibuktikan dengan nyata. Hal ini terkait belum adanya penyelesaian kasus-kasus kebebasan beragama seperti nasib para pengungsi Syiah dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/setumpuk-kasus-kebebasan-beragama-tunggu-jokowi-jk/" rel="bookmark" title="Setumpuk kasus kebebasan beragama tunggu Jokowi-JK">Setumpuk kasus kebebasan beragama tunggu Jokowi-JK </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-tagih-janji-jokowi-soal-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah">Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-nilai-kebebasan-beragama-periode-sby/" rel="bookmark" title="Komnas HAM nilai kebebasan beragama periode SBY">Komnas HAM nilai kebebasan beragama periode SBY </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Senin, 29 Desember 2014 15:02:34<br />
Reporter: <strong>Faiq Hidayat</strong></p>
<p><a href="http://m.merdeka.com/peristiwa/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama.html"><strong>Merdeka.com</strong></a><strong> &#8211; </strong>Direktur Wahid Institute, Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau akrab disapa Yenny Wahid, menilai janji presiden Jokowi-Jusuf Kalla yang ingin menghapus regulasi yang berpotensi melanggar hak asasi manusia belum dibuktikan dengan nyata. Hal ini terkait belum adanya penyelesaian kasus-kasus kebebasan beragama seperti nasib para pengungsi Syiah dan Ahmadiyah.</p>
<p>&#8220;Mencatat dalam visi-misi Jokowi-JK yang terkenal dengan Nawacita, mereka berjanji memberikan jaminan perlindungan dan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan serta melakukan langkah-langkah hukum terhadap pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tapi janji tersebut harus betul-betul dibuktikan,&#8221; kata Yenny di Kantor Wahid Institute, Jakarta, Senin (29/12).</p>
<p>Menurut dia, pemerintah harus melaksanakan fungsi pemantauan, pengawasan dan evaluasi secara lebih ketat terhadap undang-undang pemerintah daerah dan pusat dalam pembagian wewenang masalah agama.</p>
<p>&#8220;Kami menyampaikan rekomendasi kepada berbagai pihak mendesak pemerintah dan DPR agar merevisi atau mencabut sejumlah perundang-undangan baik di pusat mau daerah yang melanggar hak dan kebebasan beragama dan diskriminatif,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dia berharap presiden Joko Widodo segera merealisasikan visi-misinya dalam Nawacita untuk menegakkan hukum dan menjamin setiap warga negara terlindungi hak kebebasan beragama.</p>
<p>&#8220;Jokowi harus segera menyelesaikan kasus-kasus penting kebebasan beragama,&#8221; jelasnya.</p>
<p><strong>(mdk/bal)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/">Yenny Wahid tagih janji Jokowi-JK wujudkan kebebasan beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/setumpuk-kasus-kebebasan-beragama-tunggu-jokowi-jk/" rel="bookmark" title="Setumpuk kasus kebebasan beragama tunggu Jokowi-JK">Setumpuk kasus kebebasan beragama tunggu Jokowi-JK </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-tagih-janji-jokowi-soal-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah">Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-nilai-kebebasan-beragama-periode-sby/" rel="bookmark" title="Komnas HAM nilai kebebasan beragama periode SBY">Komnas HAM nilai kebebasan beragama periode SBY </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/yenny-wahid-tagih-janji-jokowi-jk-wujudkan-kebebasan-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 04:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[FPI]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[NTB]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo.co]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3298</guid>
		<description><![CDATA[<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 &#124; 19:42 WIB TEMPO.CO, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengatakan polisi banyak disorot oleh komunitas korban intoleransi agama. Polisi, yang seharusnya berada di garis depan dalam menjaga ketertiban dan menjamin keamanan warga negara, menunjukan sikap yang tidak netral dalam menyelesaikan sengketa antarkomunitas. (Baca: [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/">Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/korban-kekerasan-paling-banyak-dialami-oleh-perempuan/" rel="bookmark" title="Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan">Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-perkosaan/" rel="bookmark" title="Komnas Perempuan: Perempuan Ahmadiyah kerap dapat ancaman perkosaan">Komnas Perempuan: Perempuan Ahmadiyah kerap dapat ancaman perkosaan </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-komnas-perempuan/" rel="bookmark" title="Komnas Perempuan: Konflik agama rentan kekerasan gender">Komnas Perempuan: Konflik agama rentan kekerasan gender </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 | 19:42 WIB</p>
<p><strong><a href="http://www.tempo.co/read/news/2014/12/22/078630329/Sinta-Wahid-Kritik-Polisi-Memihak-di-Konflik-Agama" title="Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama (akses: 20141226; 0730 WIB)" target="_blank">TEMPO.CO</a></strong>, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengatakan polisi banyak disorot oleh komunitas korban intoleransi agama.</p>
<p>Polisi, yang seharusnya berada di garis depan dalam menjaga ketertiban dan menjamin keamanan warga negara, menunjukan sikap yang tidak netral dalam menyelesaikan sengketa antarkomunitas. (Baca: <a href="http://www.tempo.co/read/news/2014/12/08/078627113/5-Lembaga-Desak-Jokowi-Sikapi-Ahmadiyah-NTB-" target="_blank">5 Lembaga Desak Jokowi Sikapi Ahmadiyah NTB</a>)</p>
<p>&#8220;Bahkan, ketika kelompok agama tertentu mendapat perlakuan jahat dari organisasi tertentu, polisi justru melakukan pembiaran,&#8221; kata Sinta dalam acara Laporan Pelapor Khusus Komnas Perempuan Tentang Kekerasan dan Diksriminasi terhadap Perempuan dalam Konteks Pelanggaran Hak Konstitusional Kebebasan Beragama di Hotel Bidakara 22 Desember 2014. (Baca: <a href="http://www.tempo.co/read/news/2014/11/13/078621646/Daftar-Kekerasan-FPI-di-Lima-Provinsi-" target="_blank">Daftar Kekerasan FPI di Lima Provinsi</a>)</p>
<p>Forum Kerukunan Umat Beragama adalah badan bentukan pemerintah yang berisikan tokoh agama dengan maksud membuka ruang dialog lintas kelompok. </p>
<p>Berdasarkan hasil pemantauan, tim Pelapor Khusus ini mencatat beberapa kasus intoleransi terhadap pendirian rumah ibadah yang justru tidak dapat diselesaikan karena komposisi representasi di dalam FKUB. (Baca: <a href="http://www.tempo.co/read/news/2011/03/30/178323920/Gubernur-Minta-Polisi-Tangani-Kekerasan-Terhadap-Ahmadiyah" target="_blank">Gubernur Minta Polisi Tangani Kekerasan Terhadap Ahmadiyah</a>)</p>
<p>&#8220;Komposisi anggota FKUB yang menggunakan politik representasi kelompok bisa menyebabkan FKUB menjadi media untuk menghalang halangi daripada memfasilitasi berdirinya rumah ibadah,&#8221; kata Sinta.</p>
<p><strong>MITRA TARIGAN</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/">Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/korban-kekerasan-paling-banyak-dialami-oleh-perempuan/" rel="bookmark" title="Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan">Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-perkosaan/" rel="bookmark" title="Komnas Perempuan: Perempuan Ahmadiyah kerap dapat ancaman perkosaan">Komnas Perempuan: Perempuan Ahmadiyah kerap dapat ancaman perkosaan </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-komnas-perempuan/" rel="bookmark" title="Komnas Perempuan: Konflik agama rentan kekerasan gender">Komnas Perempuan: Konflik agama rentan kekerasan gender </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komnas HAM: Pemerintah gagal lindungi kelompok minoritas</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/komnas-ham-pemerintah-gagal-lindungi-kelompok-minoritas/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/komnas-ham-pemerintah-gagal-lindungi-kelompok-minoritas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 04:07:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[Hafid Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Komnas HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas.com]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3290</guid>
		<description><![CDATA[<p>HAFID mengakui, hingga saat ini masih terjadi aksi kekerasan dan perlakuan tidak adil yang diterima beberapa kelompok agama minoritas. Ia mencontohkan apa yang terjadi kepada umat Kristiani di Bogor dan Bekasi. Selain itu, juga terhadap pemeluk keyakinan Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia. Kamis, 25 Desember 2014 &#124; 17:16 WIB JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Ketua Komisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/komnas-ham-pemerintah-gagal-lindungi-kelompok-minoritas/">Komnas HAM: Pemerintah gagal lindungi kelompok minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
<li><a href="/laporan-akhir-tahun-komnas-ham-pelanggaran-kasus-kebebasan-beragama-melonjak-4/" rel="bookmark" title="LAPORAN AKHIR TAHUN KOMNAS HAM: Pelanggaran Kasus Kebebasan Beragama Melonjak">LAPORAN AKHIR TAHUN KOMNAS HAM: Pelanggaran Kasus Kebebasan Beragama Melonjak </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>HAFID mengakui, hingga saat ini masih terjadi aksi kekerasan dan perlakuan tidak adil yang diterima beberapa kelompok agama minoritas. Ia mencontohkan apa yang terjadi kepada umat Kristiani di Bogor dan Bekasi. Selain itu, juga terhadap pemeluk keyakinan Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia.</p></blockquote>
<p>Kamis, 25 Desember 2014 | 17:16 WIB</p>
<p>JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Ketua Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) Hafid Abbas mengakui, pemerintah gagal melindungi kelompok-kelompok minoritas saat menjalankan aktivitas keagamaan. Menurut Hafid, masalah kebebasan beragama belum berjalan dengan baik di Indonesia. </p>
<p>&#8220;Memang, masih ada kegagalan-kegagalan. Negara tidak sepenuhnya hadir melindungi kebebasan beragama, belum ada perhatian lebih dari pemerintah,&#8221; ujar Hafid saat dihubungi Kompas.com, Kamis (25/12/2014). </p>
<p>Hafid mengakui, hingga saat ini masih terjadi aksi kekerasan dan perlakuan tidak adil yang diterima beberapa kelompok agama minoritas. Ia mencontohkan apa yang terjadi kepada umat Kristiani di Bogor dan Bekasi. Selain itu, juga terhadap pemeluk keyakinan Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia. </p>
<p>Hafid mengatakan, toleransi antar umat beragama tidak pernah lepas dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Untuk itu, Komnas HAM mengajak semua lapisan masyarakat agar momentum Natal ini dapat digunakan sebagai perekat emosi sosial. </p>
<p>Hafid juga mendesak kepada pemerintah, khususnya Presiden Joko &#8220;Jokowi&#8221; Widodo, agar memberikan perhatian lebih kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan kebebasan beragama. Menurut Hafid, masalah tersebut tidak boleh dibiarkan terlalu lama. </p>
<p>&#8220;Saya optimis pemerintahan Jokowi mampu mengatasi permasalahan itu. Terutama, melihat agenda dalam Nawa Cita, saya yakin pemerintah bisa memberikan suatu kepastian,&#8221; kata Hafid.</p>
<p>Penulis: <strong>Abba Gabrillin</strong><br />
Editor: <strong>Hindra Liauw</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/komnas-ham-pemerintah-gagal-lindungi-kelompok-minoritas/">Komnas HAM: Pemerintah gagal lindungi kelompok minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
<li><a href="/laporan-akhir-tahun-komnas-ham-pelanggaran-kasus-kebebasan-beragama-melonjak-4/" rel="bookmark" title="LAPORAN AKHIR TAHUN KOMNAS HAM: Pelanggaran Kasus Kebebasan Beragama Melonjak">LAPORAN AKHIR TAHUN KOMNAS HAM: Pelanggaran Kasus Kebebasan Beragama Melonjak </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/komnas-ham-pemerintah-gagal-lindungi-kelompok-minoritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wonosobo, Solo dan Jakarta jadi contoh kota ramah kaum minoritas</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-minoritas/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-minoritas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 03:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[DetikNews]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[skb]]></category>
		<category><![CDATA[skb 3 menteri]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3284</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rabu, 24/12/2014 15:50 WIB Mulya Nurbilkis &#8211; detikNews Jakarta &#8211; Wonosobo, Solo dan Jakarta menjadi kota-kota yang ramah pada kaum minoritas. Wonosobo sebagai kota yang ramah pada kaum Ahmadiyah dan sekte-sekte keagamaan. Sementara Solo sebagai kota ramah pada kaum disabilitas. &#8220;Mengikutkan semua sekte dan aliran pada kegiatan yang melibatkan kaum mayoritas yang di tempat lain [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ahmadiyah-minoritas/">Wonosobo, Solo dan Jakarta jadi contoh kota ramah kaum minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
<li><a href="/kaum-minoritas/" rel="bookmark" title="Mendagri diminta keluarkan aturan baru terkait kaum minoritas">Mendagri diminta keluarkan aturan baru terkait kaum minoritas </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 24/12/2014 15:50 WIB<br />
<strong>Mulya Nurbilkis</strong> &#8211; <strong><a href="http://news.detik.com/read/2014/12/24/155036/2786835/10/wonosobo-solo-dan-jakarta-jadi-contoh-kota-ramah-kaum-minoritas?991101mainnews" title="Wonosobo, Solo dan Jakarta Jadi Contoh Kota Ramah Kaum Minoritas (akses: 20141226; 0840 WIB)" target="_blank">detikNews</a></strong></p>
<p>Jakarta &#8211; Wonosobo, Solo dan Jakarta menjadi kota-kota yang ramah pada kaum minoritas. Wonosobo sebagai kota yang ramah pada kaum Ahmadiyah dan sekte-sekte keagamaan. Sementara Solo sebagai kota ramah pada kaum disabilitas.</p>
<p>&#8220;Mengikutkan semua sekte dan aliran pada kegiatan yang melibatkan kaum mayoritas yang di tempat lain dilarang. Meski ada SKB 3 Menteri yang melarang Ahmadiyah, tadi dia menerobos,&#8221; kata Koordinator Peneliti Abdurrahman Wahid Center, Ahmad Suedy.</p>
<p>Hal itu disampaikannya dalam diskusi Catatan Akhir Tahun 2014: &#8216;Tatakelola Pemerintahan Inklusif dan Inisiatif Daerah&#8217; di blok G Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (24/12/2014). Diskusi ini dihadiri politisi PDIP Eva Kusuma Sundari dan beberapa PNS Pemprov DKI. </p>
<p>Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan para penganut aliran, sekte dan kelompok agama karena kemampuan Kholiq Arif (bupati Wonosobo, red) memimpin.</p>
<p>Penelitian soal kaum minoritas ini dilakukan di 3 kota yakni Wonosobo, Solo dan Jakarta. Di Solo, mereka melihat upaya FX Rudi selaku walikota Solo untuk meramahkan kendaraan umum untuk kaum disabilitas. </p>
<p>Kalau di Jakarta, ia mencontohkan perbaikan PKL Tanah Abang dan relokasi warga Waduk Pluit ke Marunda yang dinilai berhasil. Namun, menurutnya ada banyak kekurangan dari langkah yang dilakukan Jokowi saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI.</p>
<p>&#8220;Masalahnya di Tanah Abang jembatan blok G belum kunjung terbangun sampai sekarang. Dan ada kebiasaan kaki lima transaksinya alamiah. Ketika pindah di toko resmi dan tampilannya bersih, tidak ada persiapan kultural dari pedagang dan pemilik gedung sehingga banyak yang tidak siap,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Politisi PDIP Eva Sundari sendiri mengatakan bahwa para pemimpin daerah tersebut didorong oleh PDIP. Meski begitu, ia mengakui bahwa keberhasilan mereka memberi ruang untuk kaum minoritas karena faktor personal.</p>
<p>&#8220;Walaupun secara ideologi PDIP inklusif dan bahkan pada taraf ekstrim melindungi kelompok-kelompok itu, kenapa tidak semua daerah? Saya harus legowo. PDIP memberikan habitat tapi pada inisitif pimpinan daerah,&#8221; ucap Eva.</p>
<p>Namun, toleransi tersebut disebut Ahmad terkendali pada sistem hukum dan kemauan politik yang belum maksimal sehingga sangat bergantung pada individu pemimpin daerahnya. Karena itu, ia merekomendasikan agar pemerintah pusat. Membuat langkah-langkah baru yang sistematis dan berkelanjutan yang mendukung pemerintah yang ramah pada kaum minoritas.</p>
<p>(bil/rmd)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ahmadiyah-minoritas/">Wonosobo, Solo dan Jakarta jadi contoh kota ramah kaum minoritas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
<li><a href="/kaum-minoritas/" rel="bookmark" title="Mendagri diminta keluarkan aturan baru terkait kaum minoritas">Mendagri diminta keluarkan aturan baru terkait kaum minoritas </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-minoritas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intoleransi beragama, ini saran Sinta ke Jokowi</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-intoleransi/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-intoleransi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 02:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[GKI Yasmin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HKBP Filadelfia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[menteri agama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo.co]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi beragama]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3278</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;TERUTAMA bagi jemaah Ahmadiyah dan Syiah dengan jaminan keamanan dan peristiwa serupa tidak berulang kembali,&#8221; katanya. SENIN, 22 DESEMBER 2014 &#124; 19:48 WIB TEMPO.CO, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, memberikan beberapa saran kepada pemerintah yang dinilai sebagai salah satu pelaku intoleransi beragama di Tanah Air. &#8220;Presiden selaku [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ahmadiyah-intoleransi/">Intoleransi beragama, ini saran Sinta ke Jokowi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/" rel="bookmark" title="Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama">Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/korban-kekerasan-paling-banyak-dialami-oleh-perempuan/" rel="bookmark" title="Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan">Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;TERUTAMA bagi jemaah <strong>Ahmadiyah</strong> dan Syiah dengan jaminan keamanan dan peristiwa serupa tidak berulang kembali,&#8221; katanya.</p></blockquote>
<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 | 19:48 WIB</p>
<p><strong><a href="http://www.tempo.co/read/news/2014/12/22/078630333/Intoleransi-Beragama-Ini-Saran-Sinta-ke-Jokowi" title="Intoleransi Beragama, Ini Saran Sinta ke Jokowi (akses: 20141226; 0915 WIB)" target="_blank">TEMPO.CO</a></strong>, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, memberikan beberapa saran kepada pemerintah yang dinilai sebagai salah satu pelaku intoleransi beragama di Tanah Air.</p>
<p>&#8220;Presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahan harus menyikapi isu intoleransi,&#8221; kata Sinta dalam acara Laporan Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan dalam Konteks Pelanggaran Hak Konstitusional Kebebasan Beragama di Hotel Bidakara, 22 Desember 2014.</p>
<p>Sinta meminta Presiden Joko Widodo memerintahkan kepala daerah untuk tunduk pada hukum dengan melaksanakan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Salah satunya pada contoh kasus GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia. </p>
<p>&#8220;Mengawalinya bisa dengan memastikan jaminan keamanan bagi penyelenggara ibadah Natal 2014 di lokasi masing-masing,&#8221; katanya. (Foto: Sinta Nuriyah Hadiri Maulid Nabi dan Haul Gus Dur di PPP)</p>
<p>Sinta pun meminta kepada kepala daerah dan Menteri Agama untuk memfasilitasi perbaikan rumah-rumah ibadah yang dirusak atau disegel. Selain itu, Sinta meminta pemerintah menyediakan lokasi ibadah bagi komunitas minoritas agama yang belum dapat memenuhi prasyarat pendirian rumah ibadah.</p>
<p>Istri almarhum Gus Dur ini juga memerintahkan pemulangan pengungsi korban intoleransi agama ke kampung halamannya. &#8220;Terutama bagi jemaah Ahmadiyah dan Syiah dengan jaminan keamanan dan peristiwa serupa tidak berulang kembali,&#8221; katanya.</p>
<p>Sinta juga meminta Presiden Joko Widodo memerintahkan penanganan komprehensif bagi korban intoleransi. Dalam hal peraturan, Sinta berharap agar Presiden dan DPR RI segera melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang membatasi jaminan kebebasan beragama atau berkeyakinan.</p>
<p>Sedangkan kepada Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Sinta berharap agar bisa bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyediakan ruang informasi tentang fakta pelanggaran bagi korban. &#8220;Mereka juga perlu publikasi tentang korban diskriminasi. Selain itu, negara membutuhkan sistem pemulihan dan pendidikan toleransi,&#8221; ujar Sinta.</p>
<p>Sinta baru saja melaporkan hasil pemantauan tim di 40 kota dan kabupaten di 12 provinsi. Pemantauan ini berlangsung sejak Juni 2012 hingga 2013. Selama itu, Sinta telah melakukan wawancara dan diskusi kelompok dengan 407 narasumber yang terdiri atas 326 orang korban. Lalu ada anggota komunitas korban intoleransi, 48 aparat negara, 9 pelaku intoleran, dan 24 anggota organisasi masyarakat yang berada di sekitar lokasi pemantauan.</p>
<p><strong>MITRA TARIGAN</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ahmadiyah-intoleransi/">Intoleransi beragama, ini saran Sinta ke Jokowi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/sinta-wahid-kritik-polisi-memihak-di-konflik-agama-3/" rel="bookmark" title="Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama">Sinta Wahid Kritik Polisi Memihak di Konflik Agama </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/korban-kekerasan-paling-banyak-dialami-oleh-perempuan/" rel="bookmark" title="Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan">Korban Kekerasan Paling Banyak Dialami oleh Perempuan </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/ahmadiyah-intoleransi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Gus Dur bela hak warga Syiah dan Ahmadiyah</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 01:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[GKI Yasmin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[NTB]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo.co]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3276</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;SEJAK tahun 2001 hingga akhir 2013 tercatat setidaknya 38 kebijakan daerah yang terkait dengan pelarangan penyebarluasan ajaran Ahmadiyah di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat,&#8221; kata Sinta. SENIN, 22 DESEMBER 2014 &#124; 18:02 WIB TEMPO.CO, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengkritik negara terlibat dalam hal penghakiman atas [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/istri-gus-dur-ahmadiyah/">Istri Gus Dur bela hak warga Syiah dan Ahmadiyah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-hukum/" rel="bookmark" title="Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas">Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;SEJAK tahun 2001 hingga akhir 2013 tercatat setidaknya 38 kebijakan daerah yang terkait dengan pelarangan penyebarluasan ajaran <strong>Ahmadiyah</strong> di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat,&#8221; kata Sinta.</p></blockquote>
<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 | 18:02 WIB</p>
<p><strong>TEMPO.CO</strong>, <strong>Jakarta</strong> &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengkritik negara terlibat dalam hal penghakiman atas keyakinan. Sinta bercerita, pada 15 Januari 2008, negara membentuk Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang berwenang melakukan pengawasan terhadap keberadaan organisasi dan kelompok aliran keagamaan. (Baca: UGM Galang Dukungan Lawan Massa Anti-Film Senyap)</p>
<p>Bakorpakem pada 16 April 2008 menyatakan Ahmadiyah menyimpang dari Islam. &#8220;Sejak tahun 2001 hingga akhir 2013 tercatat setidaknya 38 kebijakan daerah yang terkait dengan pelarangan penyebarluasan ajaran Ahmadiyah di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat,&#8221; kata Sinta. (Baca: Jokowi Diminta Buka Segel Gereja GKI Yasmin)</p>
<p>Sinta juga menyesalkan kebijakan pemerintah dalam menangani pengungsi yang terkait dengan sengketa agama. &#8220;Pengungsi yang mendapat akibat intoleransi contohnya adalah Ahmadiyah dan Syiah,&#8221; kata Sinta. Ia menyatakan hal ini dalam Laporan Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan dalam Konteks Pelanggaran Hak Konstitusional Kebebasan Beragama di Hotel Bidakara, Senin, 22 Desember 2014.</p>
<p>Pengungsi Ahmadiyah juga mengalami perampasan hak atas kemerdekaan beragama dalam hal hak atas jaminan rasa aman, hak atas kehidupan yang layak, serta hak atas properti dan bertempat tinggal. (Baca: 5 Lembaga Desak Jokowi Sikapi Ahmadiyah NTB)</p>
<p>Kantor urusan agama sebagai perpanjangan pemerintah dalam hal mengurus administrasi pernikahan juga menjadi salah satu tempat terjadinya intoleransi oleh negara. Sinta menjelaskan ada beberapa kelompok agama minoritas, salah satunya Ahmadiyah, yang merasa dipersulit dalam urusan pencatatan sipil. </p>
<p>&#8220;Mereka sulit mengakses layanan publik itu. Banyak kelompok Ahmadiyah yang diminta menyatakan dirinya secara Islam sebelum menikah di KUA,&#8221; ujarnya.</p>
<p>MITRA TARIGAN</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/istri-gus-dur-ahmadiyah/">Istri Gus Dur bela hak warga Syiah dan Ahmadiyah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-hukum/" rel="bookmark" title="Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas">Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas </a></li>
<li><a href="/perilaku-intoleran-masih-marak-pemerintah-abaikan-penyelesaian-kasus/" rel="bookmark" title="Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus">Perilaku Intoleran Masih Marak. Pemerintah Abaikan Penyelesaian Kasus </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Gus Dur Bela Hak Warga Syiah dan Ahmadiyah</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-bela-hak-warga-syiah-dan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-bela-hak-warga-syiah-dan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2014 01:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Desember 2014]]></category>
		<category><![CDATA[GKI Yasmin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo.co]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3241</guid>
		<description><![CDATA[<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 &#124; 18:02 WIB TEMPO.CO, Jakarta &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengkritik negara terlibat dalam hal penghakiman atas keyakinan. Sinta bercerita, pada 15 Januari 2008, negara membentuk Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang berwenang melakukan pengawasan terhadap keberadaan organisasi dan kelompok aliran keagamaan. Bakorpakem pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/istri-gus-dur-bela-hak-warga-syiah-dan-ahmadiyah/">Istri Gus Dur Bela Hak Warga Syiah dan Ahmadiyah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-hukum/" rel="bookmark" title="Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas">Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas </a></li>
<li><a href="/pergub-larangan-syiah-ahmadiyah-melanggar-ham/" rel="bookmark" title="Pergub larangan Syiah-Ahmadiyah melanggar HAM">Pergub larangan Syiah-Ahmadiyah melanggar HAM </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>SENIN, 22 DESEMBER 2014 | 18:02 WIB</p>
<p><strong><strong><a href="http://m.tempo.co/read/news/2014/12/22/078630291/Istri-Gus-Dur-Bela-Hak-Warga-Syiah-dan-Ahmadiyah">TEMPO.CO</a></strong></strong>, <strong>Jakarta</strong> &#8211; Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama dari Komnas Perempuan, Sinta Nuriyah Wahid, mengkritik negara terlibat dalam hal penghakiman atas keyakinan. Sinta bercerita, pada 15 Januari 2008, negara membentuk Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang berwenang melakukan pengawasan terhadap keberadaan organisasi dan kelompok aliran keagamaan.</p>
<p>Bakorpakem pada 16 April 2008 menyatakan Ahmadiyah menyimpang dari Islam. &#8220;Sejak tahun 2001 hingga akhir 2013 tercatat setidaknya 38 kebijakan daerah yang terkait dengan pelarangan penyebarluasan ajaran Ahmadiyah di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat,&#8221; kata Sinta. (Baca: <a href="http://www.tempo.co/read/news/2014/12/13/078628220/Jokowi-Diminta-Buka-Segel-Gereja-GKI-Yasmin">Jokowi Diminta Buka Segel Gereja GKI Yasmin</a>)</p>
<p>Sinta juga menyesalkan kebijakan pemerintah dalam menangani pengungsi yang terkait dengan sengketa agama. &#8220;Pengungsi yang mendapat akibat intoleransi contohnya adalah Ahmadiyah dan Syiah,&#8221; kata Sinta. Ia menyatakan hal ini dalam Laporan Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan dalam Konteks Pelanggaran Hak Konstitusional Kebebasan Beragama di Hotel Bidakara, Senin, 22 Desember 2014.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/istri-gus-dur-bela-hak-warga-syiah-dan-ahmadiyah/">Istri Gus Dur Bela Hak Warga Syiah dan Ahmadiyah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-hukum/" rel="bookmark" title="Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas">Tak ada kepastian hukum bikin warga Ahmadiyah cemas </a></li>
<li><a href="/pergub-larangan-syiah-ahmadiyah-melanggar-ham/" rel="bookmark" title="Pergub larangan Syiah-Ahmadiyah melanggar HAM">Pergub larangan Syiah-Ahmadiyah melanggar HAM </a></li>
<li><a href="/ahmadiyah-ombudsman-jokowi/" rel="bookmark" title="Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah">Pengungsi Ahmadiyah; Ombudsman: Jokowi mesti contoh Gus Dur dalam kasus Ahmadiyah </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/istri-gus-dur-bela-hak-warga-syiah-dan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia drafting bill to protect all religions</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/indonesia-drafting-bill-protect-religions/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/indonesia-drafting-bill-protect-religions/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2014 05:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[HKBP Filadelfia]]></category>
		<category><![CDATA[human rights]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[interfaith]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[JAI]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[Khabar Southeast Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Lukman Hakim Saifuddin]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[Protestan]]></category>
		<category><![CDATA[shia]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3155</guid>
		<description><![CDATA[<p>President Joko &#8220;Jokowi&#8221; Widodo&#8217;s government is working on a proposed law aimed at promoting communal harmony and ridding the diverse nation of religious intolerance. By Zahara Tiba for Khabar Southeast Asia in Jakarta December 16, 2014 Leaders of religious minority groups are reacting positively to a move by the new government to draft a bill [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/indonesia-drafting-bill-protect-religions/">Indonesia drafting bill to protect all religions</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-religious-intolerance/" rel="bookmark" title="Voting against Indonesia’s religious intolerance">Voting against Indonesia’s religious intolerance </a></li>
<li><a href="/criminalizing-beliefs/" rel="bookmark" title="Time to stop criminalizing beliefs in Indonesia">Time to stop criminalizing beliefs in Indonesia </a></li>
<li><a href="/president-yudhoyonos-blind-side-religious-violence-indonesia/" rel="bookmark" title="President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia">President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>President Joko &#8220;Jokowi&#8221; Widodo&#8217;s government is working on a proposed law aimed at promoting communal harmony and ridding the diverse nation of religious intolerance.</p>
<p>By Zahara Tiba for <a href="http://khabarsoutheastasia.com/en_GB/articles/apwi/articles/features/2014/12/16/feature-02">Khabar Southeast Asia</a> in Jakarta</p>
<p>December 16, 2014</p>
<p>Leaders of religious minority groups are reacting positively to a move by the new government to draft a bill that would promote inter-faith tolerance and protect followers of such religions.</p>
<p>&#8220;We really appreciate this brave step taken by the minister,&#8221; Sheila Soraya, a spokeswoman for the Baha&#8217;i National Spiritual Assembly, told Khabar Southeast Asia, referring to Minister of Religious Affairs Lukman Hakim Saifuddin, who proposed the bill recently.</p>
<p>&#8220;I hope it will shed the discrimination we have been facing as a minority. We will support every effort for equality.&#8221;</p>
<p>Reverend Palti Panjaitan, pastor of Filadelfia Batak Protestant Church (HKBP Filadelfia), an embattled congregation in Bekasi, expressed a more guarded opinion about the prospective bill.</p>
<p>&#8220;It could mean protecting all religious followers unconditionally, or protecting only religions officially acknowledged by the government from other faiths,&#8221; he said. &#8220;If the bill is applied on the first condition, it means a lot to all of us, giving a bright future to our religious freedom.</p>
<p>&#8220;We will definitely give it full support. But if it means the second, we are against it.&#8221;</p>
<p>Yet, the pastor added if the government applied the constitution strictly and ratified international laws on human rights, the ministry needn&#8217;t draft the bill. Chapter X of the Indonesian charter states that all citizens are equal before the law. It also guarantees human rights, including the right to religious freedom.</p>
<p>&#8220;But if it is important and urgent to protect all religious freedom, so be it. It gets my support,&#8221; Palti told Khabar.</p>
<p>Upholding the right to worship freely</p>
<p>Lukman announced his plan to draft the bill in late October. It would cover religious minorities among the country&#8217;s six recognised faiths, adherents of unofficial faiths, as well as members of minority Muslim groups, such as Shia Muslims or members of the Ahmadiyah sect.</p>
<p>&#8220;In the next six months, we will prepare this bill to protect all religious groups, including those outside of the six major religions: Islam, Catholicism, Protestantism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism,&#8221; Lukman told reporters in Jakarta on October 29th.</p>
<p>&#8220;The bill will protect everyone&#8217;s right to religious freedom, as guaranteed by the Constitution. It includes the right to believe in whatever they choose to lay their faith in and the independence to practice their beliefs. We hope the bill can improve the quality of life,&#8221; he added.</p>
<p>The future bill, he said, would protect all religious groups from attacks on their places of worship or efforts by intolerant people to shutter them. If enacted, it would also allow all religious groups to obtain building permits through a regulated system.</p>
<p>&#8220;We&#8217;ll hold regular interfaith forums for religious teachers to make sure that everyone has the same point of view. Though we have different beliefs, all religions teach the same lessons of promoting humanity,&#8221; Lukman said.</p>
<p>Promoting peaceful co-existence</p>
<p>The bill Lukman proposes represents a breakthrough for the newly installed government of President Joko &#8220;Jokowi&#8221; Widodo, according to interfaith studies professor Novriantoni Kahar, who lectures at Paramadina University.</p>
<p>&#8220;I hope it will help boost religious tolerance among us, bring harmony, and create more productive lives,&#8221; he said.</p>
<p>Asked whether the bill could become law and effectively shield minorities from attacks by radical groups, Novriantoni replied it is possible – under one condition.</p>
<p>&#8220;The government must ensure that all elements help enforce the law as soon as the law is ready. It is important to understand how the law will be applied,&#8221; the academic told Khabar. &#8220;All this time such laws have been applied to minorities while radicals have walked free.&#8221;</p>
<p>Novriantoni stressed that he bill should also bar hateful speech .</p>
<p>&#8220;That would effectively protect minorities. In civilised countries, people spreading hate speech deserve to be punished,&#8221; he added.</p>
<p>Andhika Bhakti in Jakarta contributed to this article.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/indonesia-drafting-bill-protect-religions/">Indonesia drafting bill to protect all religions</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/ahmadiyah-religious-intolerance/" rel="bookmark" title="Voting against Indonesia’s religious intolerance">Voting against Indonesia’s religious intolerance </a></li>
<li><a href="/criminalizing-beliefs/" rel="bookmark" title="Time to stop criminalizing beliefs in Indonesia">Time to stop criminalizing beliefs in Indonesia </a></li>
<li><a href="/president-yudhoyonos-blind-side-religious-violence-indonesia/" rel="bookmark" title="President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia">President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/indonesia-drafting-bill-protect-religions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
