<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Warta Ahmadiyah &#187; kristen</title>
	<atom:link href="/tag/kristen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warta-ahmadiyah.org</link>
	<description>Serba Serbi Jamaah Muslim Ahmadiyah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Feb 2015 05:21:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=4.1.1</generator>
	<item>
		<title>Membumikan Cinta Melalui Sastra : Perayaan Valentin&#8217;s Day di SMA 4 Ambon</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/membumikan-cinta-melalui-sastra/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/membumikan-cinta-melalui-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2015 03:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[2015]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[damai]]></category>
		<category><![CDATA[Februari 2015]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[KontraS]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[lintas iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maluku]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3561</guid>
		<description><![CDATA[<p>“Beta tau di sini kebanyakan orang Kristen. Beta mau tanya, kalian sayang orang katolik ka seng (tidak) ?, sayang orang Advent?, sayang orang Yehofa?. sayang orang Islam?, sayang orang Suni?, sayang orang syiah?, sayang orang Ahamdiyah?&#8230;&#8230;.” dengan semangat Opa Rudi Fofid mengawali penampilannya dengan melemparkan sejumlah tanya kepada siswa-siswi SMA 4 Lateri Ambon. Para siswa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/membumikan-cinta-melalui-sastra/">Membumikan Cinta Melalui Sastra : Perayaan Valentin&#8217;s Day di SMA 4 Ambon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/warga-dan-pengurus-ahmadiyah-jateng-hadiri-haul-gus-dur/" rel="bookmark" title="Warga dan pengurus Ahmadiyah Jateng hadiri Haul Gus Dur">Warga dan pengurus Ahmadiyah Jateng hadiri Haul Gus Dur </a></li>
<li><a href="/peringatan-hari-muslih-mauud-muslim-ahmadiyah-tasikmalaya-diisi-mantan-anggota-gerakan-ahamdiyah/" rel="bookmark" title="Peringatan Hari Muslih Mau&#8217;ud Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya Diisi Mantan Anggota Gerakan Ahamdiyah">Peringatan Hari Muslih Mau&#8217;ud Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya Diisi Mantan Anggota Gerakan Ahamdiyah </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014 </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Beta tau di sini kebanyakan orang Kristen. Beta mau tanya, kalian sayang orang katolik ka seng (tidak) ?, sayang orang Advent?, sayang orang Yehofa?. sayang orang Islam?, sayang orang Suni?, sayang orang syiah?, sayang orang Ahamdiyah?&#8230;&#8230;.</em>” dengan semangat Opa Rudi Fofid mengawali penampilannya dengan melemparkan sejumlah tanya kepada siswa-siswi SMA 4 Lateri Ambon. Para siswa pun dengan riuh dan penuh semangat menunjukan rasa sayang mereka dengan menjawab “<em>sayaaaang</em>.”</p>
<p>Hari itu Sabtu 14 Februari 2015, hari dimana sebagian besar penduduk dunia merayakan hari kasih sayang atau <em>Valentin&#8217;s Day</em>. Entah bagi mereka yang mengerti asal mula atau sejarah perayaan ini atau tidak, mereka larut dalam mengekspresikan cinta kepada orang-orang yang dikasihinya, baik kepada keluarga, sahabat, atau seseorang yang di kasihi lainnya. Bagi sekte agama tertentu seperti Anglikan, Ortodoks, Lutheran dan sekte lain di Kristen, hari itu juga dirayakan dengan peribadatan khusus memperingati kewafatan seorang santo Valentinus.</p>
<p>Pun dengan SMA 4 yang kebanyakan guru dan siswa-siswinya beragama Kristen di pagi saat saya tiba di sekolah itu, mereka sedang beribadah memperingati hari kasih sayang itu. Sebagai seorang muslim, saya boleh jadi tidak percaya dan juga menolak ritual itu, tapi tentunya sebagai muslim yang baik kita harus menghargai keimanan seseorang. Menilik sisi positif dari sebuah toleransi yang terjalin atas serpihan-serpihan iman dan ritual yang berbeda.</p>
<p>Kehadiran saya di sana bukan berarti saya setuju dengan perayaan Valentin&#8217;s day itu sendiri, jauh dari itu saya mencoba meraih nilai-nilai kasih dengan datang bersilaturahmi dengan mereka yang benar-benar merayakan. Apalagi melihat realitas Ambon, paska konflik hubungan Islam-Kristen begitu renggang. Itu bisa dilihat dari sekat-sekat, blok-blok yang memisahkan perkampungan Islam dan Kristen. Mereka tak lagi bersama, bahkan untuk sekedar saling tegur sapa, peri keadaannya tidak seindah persaudaraan mereka dahulu. Luka konflik yang mendalam menyisakan sentimen yang kuat diantara keduanya. Yang muslim dibayangi perlakuan orang-orang kristen yang semena-mena, yang kristen pun dihantui keras dan kejinya orang-orang muslim.</p>
<p>Orang-orang Maluku khususnya Ambon sebenarnya sudah lelah dengan situasi ini. Pada dasarnya mereka ingin kembali menjalin hubungan yang harmoni antar sesama. Namun dengan sekatan yang ada, mereka bingung bagaimana memulai semua itu, karena jika terjadi tentunya akan timbul kecurigaan bagi sebagian pihak. Kehadiran saya adalah satu langkah kecil untuk menjalin ta’aruf atau silaturahmi dengan saudara-saudara Kristen. Saya tentunya tidak sendiri, selain saya anak-anak Bengkel sastra yang notabene heterogen keanggotaannya pun ikut hadir dalam perayaan ini.</p>
<p>Saya hadir di tengah-tengah keluarga besar SMA 4 Lateri Ambon atas undangan Opa Rudi Fofid, seorang seniman dan wartawan senior Suara Maluku yang juga begitu konsen dalam isu-isu perdamaian di Maluku. Bagi yang sudah menonton film <strong>Cahaya dari Timur</strong> mungkin tidak akan asing dengan sosok ini. Ya memang beliau beberapa kali menjadi aktor di film-film Nasional, dan bahkan rupanya beliau pernah bermain sebagai figuran di film Holywood. Tapi untuk anak-anak Ambon beliau lebih dikenal sebagi penyair yang gila, ia, karena setiap kali ia tampil, setiap mata dan indera pendengar seolah digerak dan diatur oleh lantunan bait-bait puisinya. Jika ia tertawa maka sekitarnya tertawa, pun jika ia merengek menangis dan meratap, sulit rasanya menahan untuk tidak mengikuti ekspresinya.</p>
<p>Di sela-sela penampilannya tiba-tiba ia berkata “<em>Kalian tau Ahmadiyah?, rumahnya dibakar, dibunuh, diusir dari kampung-kampungnya, dimusuhi, dicaci-maki dan dihina, diperlakukan semena-mena, jadi boneka penguasa, kalian sayang Ahmadiyah ka seng (tidak)</em>?” tanya opa pada semua peserta yang hadir dalam perayaan hari kasih sayang itu, semua pun serentak menjawab “<em>Sayaaaang</em>.” Lalu opa melanjutkan orasinya “<em>Beta panggil sodara beta dari Ahmadiyah untuk maju ke depan, menemani beta membacakan dua buah puisi.</em>” Serentak saya kaget, lalu orang-orang mulai mencari-cari keberadaan orang Ahmadiyah yang dipanggil Opa ini. Ketika saya mulai berdiri dan berjalan perlahan ke depan lapangan tempat acara itu di helat, setiap pandangan mengikuti gerak langkah saya sampai akhirnya saya duduk menemani Opa Rudi di depan ratusan orang.</p>
<p>Lalu sesampainya di depan, saya menyampaikan salam hormat kepada para tamu undangan, yang di antaranya ada Kepala Dinas Pendidikan Ambon, Kepala Sekolah dan Para Guru, dan juga Tamu Khusus seorang wartawan senior dari Belanda, selain tentunya kepada siswa-siswi SMA 4. Saat saya mulai duduk Opa Rudi kemudian membacakan puisi karya Mas Anick HT yang berjudul “<em>Kubur Kami Hidup-hidup.</em>” Sebuah puisi yang terinspirasi dari para pengungsi Ahmadiyah di Transito.</p>
<div id="attachment_3563" style="width: 310px" class="wp-caption aligncenter"><a href="/wp-content/uploads/2015/02/ahmadiyah-ambon-valentine-day-opa-rudi.png"><img class="size-medium wp-image-3563" src="/wp-content/uploads/2015/02/ahmadiyah-ambon-valentine-day-opa-rudi-300x169.png" alt="ahmadiyah-ambon-valentine-day-opa-rudi" width="300" height="169" /></a><p class="wp-caption-text">Opa Rudi Fofid saat membacakan puisi “Kubur Kami Hidup-hidup”</p></div>
<p>Melihat Opa membacakan puisi, dengan teriakan dan rintihan yang menyayat, tak pelak suasana yang tadinya rame pecah menyambut opa, berubah hening. Denting piano ikut menghantarkan suasana haru, saya pun tak kuasa menahan air mata yang mulai mengisi sisi-sisi mata saya. Saya melihat ke sekeliling, mencoba mengabadikan momen itu, dan di saat itu juga saya menyaksikan betapa semua orang yang hadir ikut haru mendengar puisi yang dibacakan Opa Rudi ini.</p>
<p>Tepuk tangan penonton lalu menandakan akhir puisi itu dibacakan, lalu saya melihat betapa orang-orang mulai mengusap matanya, pertanda larut dalam haru. Opa menghampiri saya lalu memeluk saya, semua memberikan tepuk tangan. Kemudian Opa memberikan mikrofonnya kepada saya, dan memperkenankan saya menyampaikan sepatah dua patah kata. Saya pun mengutarakan kegembiran saya bisa berada di tengah-tengah mereka, sama-sama merasakan betapa perbedaan tidak menjadi halangan untuk saling mengasihi.</p>
<p>Selain itu, saya pun sampaikan bahwa keberadaan saya di Ambon selain sebagai seorang mubaligh Ahmadiyah, saya juga berharap bisa ikut menjadi pejuang perdamaian di tanah Maluku ini. Layaknya selogan dari Ahmadiyah itu sendiri “<strong>Love for All Hatred for None</strong>” kami akan senantiasa berusaha untuk menebarkan kasih kepada seluruh umat manusia.</p>
<p>Lalu Opa kembali membacakan satu buah puisi yang bertemakan cinta, saya pun kembali menyaksikan Pak Tua ini berkreasi dengan puisinya. Orang-orang kini mulai larut dengan nada-nada cinta yang lantunkan Opa. Dari setiap pandang mata saya melihat ada harapan yang teramat dalam dengan kedamaian di Ambon, di tanah Maluku. Mereka merindukan Pela Gandong, satu kaidah persaudaraan Islam-Kristen yang melegenda sedari dulu menjaga setiap perbedaan yang ada. Dalam puisi atau sastra lain yang ditampilkan terselip harapan elemen yang universal ini bisa merangkai perbedaan yang ada menjadi suatu harmoni yang saling melengkapi keberadaannya.</p>
<p>Ambon dan Sastra memang cukup erat kaitannya, banyak sekali sastrawan yang lahir di tanah para raja ini, tidak hanya yang tua-tua, nama-nama muda banyak menghiasi kejuaraan sastra tanah air. Banyak juga yang sudah menelorkan karya-karya sastra. Di tanah ini lahir banyak seniman yang cukup populer di tanah air dan juga di manca negara. Saya baru tau kalau banyak penyanyi Jaz lahir di tanah para raja ini. Musisi Jaz Belanda juga ternyata tak bisa lepas keterikatannya dengan Maluku, banyak dari antara mereka yang kecilnya di Maluku atau darah Maluku mengalir dalam tubuh mereka. Tak heran kalau Ambon disebut kota Musik, memang banyak sekali musisi dan sastrawan yang terlahir di Maluku, khususnya di kota Ambon ini.</p>
<p>Ketertarikan masyarakat terhadap musik pun cukup tinggi, baik masyarakat muslim atau kristen, keduanya sama-sama menggilai musik. Jangan heran kalau di setiap penjuru kota sering sekali diadakan pesta dansa. Setiap hajatan atau perayaan besar, mesti ada pesta dansa. Ya seni dan sastra menjadi media yang cukup menjanjikan dalam menuai cinta. Karena tatkala mereka beradu, mereka lupa mereka bertemu dengan siapa, orang mana, atau bahkan agamanya apa.</p>
<p>Dalam perayaan ini juga selain puisi, juga ditampilkan kesinian-kesenian khas Ambon dan Maluku. Kesenian yang lahir di tanah Mauluku, baik yang datang dari perkampungan Islam maupun dari daerah Kristen.</p>
<p>Sastra adalah karunia yang diciptakan Tuhan untuk manusia sukuri dan nikmati. Dari bilah positifnya bisa kita manfaatkan untuk hal yang baik pula tentunya. Tentu ada sisi negatifnya, tapi lelah rasanya kalau kita terus-menerus memperdebatkan sisi-sisi negatif sesuatu hal. Kita hanya sibuk berdiskusi dan berdebat, tanpa sedikit berikhtiar memecah satu problematika.</p>
<p>Setelah Opa membacakan Puisi, acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni tari, teatrikal, musikalisasi puisi, dan beberapa puisi yang dibawakan oleh anak-anak SMA 4, alumni, komunitas Merah Saga, komunitas Puisi Kopi Wakal, dan juga rekan-rekan komunitas lain yang turut hadir dalam perayaan itu. Yang menarik yang mengisi perayaan ini tidak hanya orang-orang Kristen, beberapa pengisi acara berasal dari sekolah Muslim, seperti dari SMA Tulehu yang notabene siswa-siswinya muslim.</p>
<p>Sastra menyatukan mereka, membuat mereka lupa tentang perbedaan yang kontras dalam keadaan mereka. Hari itu sastra menyatukan mereka, mengajarkan mereka tertawa bersama. Tuhan indah dan menyukai keindahan, rasanya keterangan hadits sesuai dengan momentum kala itu. Keindahan sastra menyatukan keindahan silaturahmi. Acara ini ditutup dengan do’a lintas iman, dengan harapan hari kasah sayang itu menjadi titik awal penyebar luasan kasih di antara seluruh masyarakat maluku, dan keberadaan sastra bisa senantiasa menjaga perbedaan yang ada. Dengan keindahan sastra mari membumikan cinta. (Ridhwan Ibnu Luqman)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/membumikan-cinta-melalui-sastra/">Membumikan Cinta Melalui Sastra : Perayaan Valentin&#8217;s Day di SMA 4 Ambon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/warga-dan-pengurus-ahmadiyah-jateng-hadiri-haul-gus-dur/" rel="bookmark" title="Warga dan pengurus Ahmadiyah Jateng hadiri Haul Gus Dur">Warga dan pengurus Ahmadiyah Jateng hadiri Haul Gus Dur </a></li>
<li><a href="/peringatan-hari-muslih-mauud-muslim-ahmadiyah-tasikmalaya-diisi-mantan-anggota-gerakan-ahamdiyah/" rel="bookmark" title="Peringatan Hari Muslih Mau&#8217;ud Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya Diisi Mantan Anggota Gerakan Ahamdiyah">Peringatan Hari Muslih Mau&#8217;ud Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya Diisi Mantan Anggota Gerakan Ahamdiyah </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014 </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/membumikan-cinta-melalui-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterlibatan Ahmadiyah merajut kembali nilai-nilai welas-asih di bumi pertiwi Maluku</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/keterlibatan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/keterlibatan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2015 08:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[2015]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[ARMC]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[damai]]></category>
		<category><![CDATA[Februari 2015]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[interfaith]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[lintas agama]]></category>
		<category><![CDATA[lintas iman]]></category>
		<category><![CDATA[LSAF]]></category>
		<category><![CDATA[Maluku]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3509</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sumbangsih dan keterlibatan Ahmadiyah untuk bumi Maluku, mensyiarkan Islam rahmatan lil-&#8216;alamin Ambon, 5 Februari 2015. “Dalam setiap agama terdapat nilai-nilai welas asih sebagaimana melekat dalam sifat Tuhan dalam setiap agama. Dalam Islam dikenal Allah al-Rahman al-Rahim atau Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dalam tradisi Yahudi dikenal dengan sifat “Rachem’ atau pengasih, dan dalam tadisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/keterlibatan-ahmadiyah/">Keterlibatan Ahmadiyah merajut kembali nilai-nilai welas-asih di bumi pertiwi Maluku</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/belum-membuktikan-keterlibatan-para-terdakwa-menyerang-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Penyerangan terhadap Ahmadiyah ; kesaksian di PN Tasikmalaya belum membuktikan keterlibatan para terdakwa">Penyerangan terhadap Ahmadiyah ; kesaksian di PN Tasikmalaya belum membuktikan keterlibatan para terdakwa </a></li>
<li><a href="/kota-peduli-ham/" rel="bookmark" title="PEMANTAUAN KEBIJAKAN HAM kota peduli HAM: Keterlibatan masyarakat dan pemerintahan daerah untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia">PEMANTAUAN KEBIJAKAN HAM kota peduli HAM: Keterlibatan masyarakat dan pemerintahan daerah untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia </a></li>
<li><a href="/pasca-10-tahun-tsunami-masyarakat-aceh-kini-berhadapan-dengan-formalisasi-islam/" rel="bookmark" title="Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam">Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sumbangsih dan keterlibatan <strong>Ahmadiyah </strong>untuk bumi Maluku, mensyiarkan Islam rahmatan lil-&#8216;alamin</p></blockquote>
<p align="justify"><strong>Ambon, 5 Februari 2015</strong>. “Dalam setiap agama terdapat nilai-nilai welas asih sebagaimana melekat dalam sifat Tuhan dalam setiap agama. Dalam Islam dikenal Allah al-Rahman al-Rahim atau Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dalam tradisi Yahudi dikenal dengan sifat “Rachem’ atau pengasih, dan dalam tadisi kristen Yesus yang lahir dari rahim seorang Maria merupakan bagian dari kerahiman Tuhan pada umatnya. Semua keturunan Abraham, memiliki nilai welas asih, karena dalam nama buyutnya dari kata Abraham terselip kata Ra Hi Ma atau pengasih.” Itu merupakan petikan paparan yang disampaikan Pastor Petrus Lakonawa pada saat Seminar Toleransi dan Pendidikan Damai di Kolose Xaverius Ambon.</p>
<p align="justify">Dalam seminar yang terselenggara berkat kerjasama LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) dengan ARMC (Ambon Reconciliation and Mediation) itu, hadir peserta dari beberapa kalangan. Seperti dari para guru Katolik dan Muslim, HMI Cabang Ambon, Komunitas Rinjani, dan Tarekat Hati Qudus Bunda Maria.</p>
<p align="justify">Selain Pastor Petrus, Abidin Wakano (Wakil ketua MUI Maluku, Rektor IAIN Ambon, dan Direktur ARMC) juga turut hadir dan menyampaikan materi berkenaan ajaran welas asih dalam tradisi Maluku. Beliau mengatakan, “Tak pernting apa agamanya, sesama orang Mauluku, kita semua bersaudara. Karena, kita sama-sama makan ikan, papeda, dan colo-colo (makanan khas Maluku). Apa yang ale rasa beta rasa, berdarah di sana, sakit di sini.”</p>
<p align="justify">Mungkin yang agak berbeda dalam seminar ini adalah kehadiran saya yang oleh moderator diperkenalkan sebagai mubaligh dari Ahmadiyah. Sebagian rekan-rekan HMI ada yang terkejut saya diperkenalkan. Mungkin karena Ahmadiyah dinilai sebagai sumber konflik di beberapa daerah di tanah air, maka timbul ketakutan kehadiran saya menjadi bumbu konflik baru di tanah Maluku. Namun, dalam paper yang saya sampaikan, saya berusaha meyakinkan pendengar bahwa dalam tradisi Ahmadiyah, tidak dikenal dengan ajaran kekerasan, dan kedatangan saya sebagai mubaligh ke Ambon pun tidak lain untuk menebarkan ajaran welas asih dalam Islam.</p>
<p align="justify">Dengan mengutip Al-Qur’an Surah al-Hujurat ayat 14, saya sampaikan bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kalimatun sawa atau common word-nya adalah “insan” atau manusia. Di dalam ayat itu Allah Ta’ala memanggil manusia dengan kata “insaan” dengan maksud mengikat persaudaraan umat manusia yang Tuhan ciptakan bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Selain itu, saya juga menggaris bawahi kata “ta’aruf” dalam ayat itu. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa untuk menyikapi perbedaan yang ada dalam diri kita, maka kita hendaknya berta’aruf atau melakukan upaya untuk berkomunikasi dan saling mengenal satu sama lainnya.</p>
<p align="justify">Kemudian Suster Brigita dari Tarekat Hati Qudus Bunda Maria memaparkan ceritanya tatkala beliau berjuang dalam upaya rekonsiliasi Ambon pada saat konflik 1999. Di sesi keempat ini, beliau bercerita bahwa kaum perempuanlah yang mengawali upaya rekonsiliasi pada saat konflik Ambon. Yang paling terkenal adalah rekonsiliasi becak Islam-Kristen. Para pengayuh becak kebanyakan orang-orang Islam, dan pada saat konflik orang-orang Islam dipisahkan dari orang-orang kristen. Dari pemisahan itu di “daerah Kristen” tidak tersedia transportasi. Suster Brigita dari katolik dan Mba Kiki (saat itu aktifis HMI) berusaha mendatangkan beca ke wilayah Kristen.</p>
<p align="justify">Singkat cerita. Suster Brigita datang ke wilayah muslim dengan membawa pemuda Kristen untuk membeli becak. Suster membeli 10 buah becak untuk dibawa pemuda Kristen. Namun karena pemuda Kristen ini belum bisa mengayuh becak, akhirnya dintarkan oleh para pemuda muslim. Dengan jaminan suster Brigita dan Mba Kiki, mereka mengantarkan para pemuda kristen ke wilayah Kristen. Tak sampai di situ, setibanya di wilayah Kristen, kini gantian pemuda Kristen yang mengantarkan pemuda muslim ke wilayah muslim, dan mereka dituntut untuk belajar mengayuh becak tersebut. Dari situlah, kemudian, upaya rekonsiliasi dalam bentuk lain juga digabung oleh suster Brigita dan Mbak Kiki.</p>
<p align="justify">Setelah keempat pembicara menyampaikan paparannya, para peserta juga banyak bercerita tentang konflik 1999 dan upaya mereka membangun kembali persaudaraan di antara orang-orang Maluku. Mbak Warni, misalnya, bercerita tentang upayanya membangun perdamaian di daerah perbatasan antara Muslim dan Kristen. Tantangannya tidak hanya dari kalangan orang-orang Kristen saja, tapi juga dari kalangan orang-orang Islam, karena dia sering disebut sebagai antek atau mata-mata dari Kristen.</p>
<p align="justify">Seminar yang dimulai pukul 08.00 WIT pun ditutup dengan ‘doa lintas agama’ pada pukul 01.00 WIT.</p>
<p>&#8212;<br />
<strong>RIdhwan Ibnu Luqman</strong> untuk <strong>Warta Ahmadiyah</strong>; editor: <strong>R.A. Daeng Mattir</strong>o</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/keterlibatan-ahmadiyah/">Keterlibatan Ahmadiyah merajut kembali nilai-nilai welas-asih di bumi pertiwi Maluku</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/belum-membuktikan-keterlibatan-para-terdakwa-menyerang-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Penyerangan terhadap Ahmadiyah ; kesaksian di PN Tasikmalaya belum membuktikan keterlibatan para terdakwa">Penyerangan terhadap Ahmadiyah ; kesaksian di PN Tasikmalaya belum membuktikan keterlibatan para terdakwa </a></li>
<li><a href="/kota-peduli-ham/" rel="bookmark" title="PEMANTAUAN KEBIJAKAN HAM kota peduli HAM: Keterlibatan masyarakat dan pemerintahan daerah untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia">PEMANTAUAN KEBIJAKAN HAM kota peduli HAM: Keterlibatan masyarakat dan pemerintahan daerah untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia </a></li>
<li><a href="/pasca-10-tahun-tsunami-masyarakat-aceh-kini-berhadapan-dengan-formalisasi-islam/" rel="bookmark" title="Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam">Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/keterlibatan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyangkalan Terhadap Kematian 3 Mahasiswa Muslim di Chapel Hill</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/penyangkalan-terhadap-kematian-3-mahasiswa-muslim-chapel-hill/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/penyangkalan-terhadap-kematian-3-mahasiswa-muslim-chapel-hill/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2015 05:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3511</guid>
		<description><![CDATA[<p>Penembakan di North Carolina [Chapel Hill] bukan sekedar &#8220;perselisihan persoalan parkir&#8221;. Kabar yang beredar, hal ini berkaitan dengan sikap anti-muslim. Tiga mahasiswa tewas pada hari Selasa di Chapel Hill, North Carolina, [mereka bertiga] muslim yang membangakan dan warga Amerika yang membanggakan. Deah Shaddy Barakat, 23tahun, istrinya Yusor Abu-Salha, 21 tahun, [mereka berdua] mendedikasikan diri melayani kemanusiaan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/penyangkalan-terhadap-kematian-3-mahasiswa-muslim-chapel-hill/">Penyangkalan Terhadap Kematian 3 Mahasiswa Muslim di Chapel Hill</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014 </a></li>
<li><a href="/pengaruh-ahmadiyah-di-gambia/" rel="bookmark" title="Pengaruh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Gambia">Pengaruh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Gambia </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Penembakan di North Carolina [Chapel Hill] bukan sekedar &#8220;perselisihan persoalan parkir&#8221;. Kabar yang beredar, hal ini berkaitan dengan sikap anti-muslim</strong>.</p>
<p align="justify">Tiga mahasiswa tewas pada hari Selasa di Chapel Hill, North Carolina, [mereka bertiga] muslim yang membangakan dan warga Amerika yang membanggakan. Deah Shaddy Barakat, 23tahun, istrinya Yusor Abu-Salha, 21 tahun, [mereka berdua] mendedikasikan diri melayani kemanusiaan, mereka yang tertindas dan menderita. Adik perempuan Abu-Salha, Razan Abu-Salha, 19 tahun, adalah seorang seniman berbakat di <em>North Carolina State University</em>.</p>
<p align="justify">Dalam benak saya, sulit untuk percaya bahwa ketiga mahasiswa muslim tersebut menjadi target pembuhunan bukan karena iman mereka.</p>
<p align="justify">Tetangga mereka, Craig Stephen Hicks, didakwa dengan pembunuhan tingkat pertama atas kematian ketiga mahasiswa tersebut. Sementara itu Kepala Kepolisian Chapel Hill, Chris Biru, menyatakan bahwa motif Hicks &#8216;didasarkan pada &#8220;perselisihan persoalan parkir,&#8221; ia juga mengakui &#8220;kekhawatiran mengenai kemungkinan bahwa persitiwa ini termotivasi oleh kebencian.&#8221;</p>
<p align="justify">Akui saja, jika Hicks adalah Muslim, dan korbannya seorang berkulit putih seperti Hicks, kita akan sulit menemukan judul berita tanpa adanya kata teroris. Faktanya di media sosial, #ChapelHillShooting menunjukkan tren sebagai nomor satu, dengan banyak muncul pertanyaan yang sama. Namun, telah terjadi pendekatan apatis terhadap para korban Muslim selama dasawarsa terakhir yang mencerminkan adanya standar ganda.</p>
<p align="justify">Mari kita deskripsikan sang terdakwa:</p>
<p align="justify">Hicks menyebut dirinya &#8220;anti-teis&#8221; dan memuji penulis seperti Richard Dawkins. Tapi jangan berharap anti-teis bertanggung jawab atas tindakan Hicks tersebut. Sementara anti-teis menyalahkan Islam hanya karena teroris Islam mengklaim mengamalkan ajaran Islam, argumen seperti itu tampaknya tidak berlaku untuk teroris anti-teis.</p>
<p align="justify">Hicks seorang pria kulit putih. Pemerintah melaporkan bahwa 70% pelaku penembakan massal di Amerika dalam 30 tahun terakhir dilakukan oleh pria kulit putih. Namun jangan harap pemerintah membahas tentang mengapa orang kulit putih menjadi radikal, atau bagaimana mengendalikan radikalisasi [orang kulit putih].</p>
<p align="justify">Tersangka pria bersenjata tersebut berasal dari North Carolina, sebuah negara bagian yang telah mengesahkan &#8220;undang-undang anti-syariah&#8221; yang tidak masuk akal dan berbau Islamofobia. Hukum seperti itu, selain tidak ada maknanya dan tidak konstitusional, juga mempromosikan kebencian terhadap Muslim, intoleransi terhadap Islam, dan rasa takut kepada semua orang yg tidak mengikuti &#8220;standar&#8221; xenophobia yang seolah ditampakkan oleh tiap warga amerika?.</p>
<p align="justify">Baru-baru ini, Duke University terpaksa membatalkan &#8220;adzan&#8221; yang telah direncanakan setelah menerima &#8220;ancaman keamanan.&#8221; Namun jangan berharap adanya pengakuan publik bahwa North Carolina mendorong fanatisme anti-Muslim.</p>
<p align="justify">Bukti meningkatnya Islamophobia ditunjukkan oleh, misalnya, meningkatnya jumlah undang-undang anti-syariah di seluruh negeri. Demikian pula tidak dapat dibantah bahwa meningkatnya diskriminasi anti-Muslim dan kekerasan anti-Muslim. Departemen Kehakiman telah menyelidiki lebih dari 800 kasus kekerasan terhadap warga Amerika Muslim, Arab, atau berlatar belakang Asia Selatan sejak 9/11.</p>
<p align="justify">Begitu juga, Pew melaporkan bahwa sementara hanya kurang dari setengah orang Amerika yang pernah bertemu dengan seorang Muslim, Muslim Amerika memiliki rating persetujuan terendah dibanding demografis iman lainnya. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa, &#8220;83% orang Amerika mengatakan orang-orang yang melakukan kekerasan dan mengaku Kristen bukanlah [penganut] Kristen sejati, sementara kurang dari setengah orang Amerika (48%), berpikir bahwa orang yang menyatakan Muslim yang melakukan kekerasan atas nama Islam bukanlah Muslim sejati. &#8220;</p>
<p align="justify">Bias ini juga telah berdampak pada pencari kerja Muslim dan mereka disarankan untuk menghapus apapun yang mengindikasikan iman mereka pada aplikasi pekerjaan. Bahkan, New York Times melaporkan data dari <em>Equal Employment Opportunity Commission</em> yang menunjukkan bahwa dengan hanya 2% dari total tpopulasi, Muslim Amerika mencapai hingga 25% dari tindakan diskriminasi agama.</p>
<p align="justify">Saat tiga mahasiswa yang tidak berdosa akan segera dimakamkan, saya teringat kata-kata menghibur dari yang mulia Khalifah Islam setelah serangan mengerikan di sekolah Peshawar di Pakistan Desember lalu, di mana lebih dari 140 orang &#8211; yang sebagian besar anak-anak &#8211; dibunuh: &#8220;<em>Semoga Allah Ta&#8217;ala mengampuni seluruh korban dan mereka yang ditinggalkan berduka dengan jubah kasih dan cinta-Nya, dan memberikan orang tua mereka kesabaran serta ketabahan.</em> &#8220;</p>
<p align="justify">Dan seperti serangan Peshawar yang merupakan momen penting bagi Pakistan, serangan Chapel Hill juga harus menjadi momen penting untuk Amerika. Warga Amerika harus mengutuk mengerikan ini sebagai bipartisan dan juga semua kefanatikan dan kekerasan anti-Muslim. Ini berarti tidak ada lagi mitos &#8220;<em>no go zone</em>&#8220;, tidak ada lagi ketakutan &#8220;anti-syariah&#8221;, dan tidak ada lagi media yang menggunakan standar ganda.</p>
<p align="justify">Cukup sudah. Setelah pembunuhan yang tidak masuk akal ini, satu-satunya pertanyaan yang media, politisi dan setiap warga amerika yang harus pertanyakan adalah &#8220;Bagaimana kita sekarang bisa beriringan bersama Muslim Amerikadan menghentikan hal ini terjadi lagi?&#8221;</p>
<p align="justify">Sumber : <a title="USA Today" href="http://www.usatoday.com/story/opinion/2015/02/11/chapel-hill-shooting-muslim-terrorist-attack-column/23234863/" target="_blank">USA Today</a></p>
<p align="justify">Qasim Rashid adalah seorang pengacara, penulis, dan juru bicara nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah USA.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/penyangkalan-terhadap-kematian-3-mahasiswa-muslim-chapel-hill/">Penyangkalan Terhadap Kematian 3 Mahasiswa Muslim di Chapel Hill</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014 </a></li>
<li><a href="/pengaruh-ahmadiyah-di-gambia/" rel="bookmark" title="Pengaruh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Gambia">Pengaruh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Gambia </a></li>
<li><a href="/pelayanan-minoritas/" rel="bookmark" title="Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif">Pelayanan publik terhadap kaum minoritas dinilai masih diskriminatif </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/penyangkalan-terhadap-kematian-3-mahasiswa-muslim-chapel-hill/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar di Australia, dosen IAIN ajak mahasiswa ke gereja di Banda Aceh</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2015 06:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2015]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Atjeh Post]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[damai]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[interfaith]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Januari 2015]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Radio Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3371</guid>
		<description><![CDATA[<p>AYAH juga bukan laki-laki sembarangan. Ia pernah menjadi ketua Rotary chapter Adelaide bagian selatan. Ketika berada di Flagstaff Hill, saya sempat mengikuti dua kali kegiatan Rotary, penggalangan dana dengan cara penjualan lukisan dan interfaith dialogue dengan komunitas Ahmadiyah. selain itu beliau juga pernah menjadi semacam bupati di salah satu wilayah di Australia Selatan pada akhir [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/">Belajar di Australia, dosen IAIN ajak mahasiswa ke gereja di Banda Aceh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/senyap-gorontalo/" rel="bookmark" title="‘Senyap’ screened at  IAIN Gorontalo">‘Senyap’ screened at  IAIN Gorontalo </a></li>
<li><a href="/pasca-10-tahun-tsunami-masyarakat-aceh-kini-berhadapan-dengan-formalisasi-islam/" rel="bookmark" title="Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam">Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam </a></li>
<li><a href="/kekerasan-agama-di-indonesia-disorot-media-australia/" rel="bookmark" title="Kekerasan agama di Indonesia disorot media Australia">Kekerasan agama di Indonesia disorot media Australia </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>AYAH juga bukan laki-laki sembarangan. Ia pernah menjadi ketua Rotary chapter Adelaide bagian selatan. Ketika berada di Flagstaff Hill, saya sempat mengikuti dua kali kegiatan Rotary, penggalangan dana dengan cara penjualan lukisan dan interfaith dialogue dengan komunitas <strong>Ahmadiyah</strong>. selain itu beliau juga pernah menjadi semacam bupati di salah satu wilayah di Australia Selatan pada akhir tahun 70an hingga awal tahun 80an.</p></blockquote>
<p><strong><a href="http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-01-05/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/1401611" title="Belajar di Australia, Dosen IAIN Ajak Mahasiswa ke Gereja di Banda Aceh (terbit 5 January 2015, 10:48 AEDT; akses: 20150106; 1145 WIB)" target="_blank">Radio Australia</a></strong></p>
<p>Terbit 5 January 2015, 10:48 AEDT<br />
Sumbangan Tulisan <strong>Rosnida Sari</strong></p>
<p>GAMBAR: <em>Para mahasiswa mendengar penjelasan pendeta di Banda Aceh sebagai bagian dari kuliah. (Istimewa)</em></p>
<p>Terilhami apa yang dialaminya ketika belajar di Universitas Flinders di Australia Selatan, Rosnida Sari, dosen IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh mengajak para mahasiswanya mengetahui agama lain dengan berkunjung ke sebuah gereja di sana.</p>
<p>Saya mempunyai pengalaman yang sangat berkesan dengan mahasiswa-mahasiswi saya. Semester ini salah satu mata pelajaran yang saya asuh adalah Study Gender dalam Islam.</p>
<p>Sepertinya menarik jika mahasiswa yang semuanya Islam ini belajar juga tentang bagaimana agama lain melihat relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka.</p>
<p>Niat untuk membawa mahasiswa ini karena saat berada di Adelaide, saya banyak berteman dengan teman lokal. Bahkan saya sempat tinggal bersama keluarga lokal selama tiga bulan di Flagstaff Hill, Australia Selatan.</p>
<p>Saat berteman dengan teman-teman lokal ini saya sering datang memenuhi undangan mereka seperti BBQ, piknik bahkan house warming party. Ketika mereka tau saya beragama Islam dan senang mengunjungi gereja-gereja, mereka berkata bahwa mereka malah tidak pernah mengunjungi mesjid, dan mereka ingin berkunjung ke mesjid suatu saat. Sayangnya, sampai saya kembali ke Aceh, niat itu tidak terealisasikan.</p>
<p>Ketika saya tinggal bersama keluarga lokal, saya juga sempat datang mengikuti beberapa kegiatan gereja yang digawangi oleh ibu. Ibu giat melakukan kegiatan charity seperti membuat club merajut bagi para perempuan di lingkungannya. tujuannya adalah sebagai tempat berkumpul bagi para perempuan untuk berbagi cerita. begitu juga sebagai wadah bagi para pendatang baru di lingkungan yang dekat dengan gerejanya, seperti para pendatang dari Rumania atau Vietnam, yang mungkin belum mempunyai kenalan di lingkungan tersebut.</p>
<p>Dengan mengikuti klub merajut ini, ibu dan teman-temannya dari komunitas lokal bisa membantu para pendatang baru ini tadi, yang bisa jadi belum bisa berbahasa Inggris atau belum mempunyai perlengkapan rumah tangga, seperti sofa atau meja makan. Peralatan ini, terkadang diberikan dengan cuma-cuma oleh anggota gereja.</p>
<p>Ayah juga bukan laki-laki sembarangan. Ia pernah menjadi ketua Rotary chapter Adelaide bagian selatan. Ketika berada di Flagstaff Hill, saya sempat mengikuti dua kali kegiatan Rotary, penggalangan dana dengan cara penjualan lukisan dan interfaith dialogue dengan komunitas Ahmadiyah. selain itu beliau juga pernah menjadi semacam bupati di salah satu wilayah di Australia Selatan pada akhir tahun 70an hingga awal tahun 80an.</p>
<p>Kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan Australia, khususnya Adelaide tidak terlepas dari beasiswa yang saya dapatkan dari pemerintah Aceh untuk melanjutkan study saya di Flinders University. Pemerintah Aceh memberikan beasiswa bagi guru dan dosen yang selamat dari musibah tsunami 2004.</p>
<p>Saya tercatat sebagai seorang dosen baru pada tahun 2006 sehingga berhak untuk ikut tes mendapatkan beasiswa ini. Salah satu negara yang memberikan sumbangan sehingga menjadi beasiswa adalah Australia.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman tersebut saya lalu mencoba mencoba menjadi &#8216;jembatan&#8217; perdamaian bagi umat Kristiani dan Islam di kota saya sekarang, Banda Aceh. Saya kira sudah saatnya saya &#8216;membalas&#8217; kebaikan mereka dengan menjadi semacam &#8216;pembawa damai&#8217; untuk agama dan budaya yang berbeda ini. </p>
<p>Kembali ke cerita gereja, karena pendeta di salah satu gereja di Banda Aceh ini adalah teman saya, maka sayapun melakukan pendekatan dan mengatakan bahwa saya ingin membawa mahasiswa untuk berkunjung ke gereja.</p>
<p>Selain untuk tau tentang relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka, saya juga ingin agar tidak ada ketidaknyamanan mahasiswa pada mereka yang beragama berbeda. Tujuannya tentu saja agar terjadi kesalingpahaman diantara mereka, menghilangkan prasangka yang sudah dibentuk oleh media (Koran dan TV) atau saat mendengar perbincangan orang lain. </p>
<p>Dengan mendengar langsung dari pak pendeta dan tentunya pemeluk agama Kristen itu secara langsung, saya harap para mahasiswa ini bisa bertanya langsung sehingga memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama Nabi Isa ini.</p>
<p><div id="attachment_3386" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-01-05/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/1401611"><img src="/wp-content/uploads/2015/01/aceh-rosnida-sari-300x225.jpg" alt="Rosnida Sari membantu ibu lokalnya Barbara di Adelaide mengumpuilkan dana bagi kegiatan sosial. (Istimewa)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-3386" /></a><p class="wp-caption-text">Rosnida Sari membantu ibu lokalnya Barbara di Adelaide mengumpuilkan dana bagi kegiatan sosial. (Istimewa)</p></div>Awalnya saya khawatir mereka tidak mau datang dengan alasan hujan yang amat lebat atau karena tidak nyaman (takut) untuk datang ke gereja. buktinya adalah: ketika saya tawarkan hal ini pada kelas yang lain, mahasiswa di kelas tersebut ogah-ogahan menjawab. Dari sekitar 26 orang, hanya 3 yang mengatakan ya. Sisanya, ada yang senyum kecut dan menggelengkan kepala.</p>
<p>Tapi ternyata mahasiswa dari kelas gender ini sangat antusias. Beberapa kali diantara mereka menelpon bertanya bagaimana sampai ke gereja. </p>
<p>Saya memang menyediakan diri untuk datang terlebih dahulu. Selain agar bisa menyambut mereka disitu, juga agar mereka nyaman bahwa ada seseorang yang telah mereka kenal yang ada di tempat asing tersebut.</p>
<p>Lagi-lagi, saya khawatir mahasiswa saya tidak mau bertanya ketika pak pendeta menyelesaikan memaparnya. saya mempersiapkan beberapa pertanyaan dan saya minta beberapa mahasiswa bertanya dengan pertanyaan yang telah saya siapkan tadi.</p>
<p>Tapi ternyata, setelah pak pendeta menyelesaikan paparannya, beberapa mahasiswa malah bertanya dengan pertanyaan mereka sendiri. Artinya mereka juga berminat untuk tau lebih jauh tentang agama Kristen dan pertanyaan mereka direspon langsung oleh penganut agama tersebut.</p>
<p>Saat pulang, saya menyapa seorang mahasiswa yang bajunya terlihat basah, akibat kehujanan. Dia katakan bahwa dia bukan dari kelas Gender saya, melainkan dari kelas lain yang saya asuh. Ia katakan bahwa ia juga memberitahu teman-temannya dari kelas lain tersebut untuk datang dan ia sangat tertarik dengan apa yang telah ia dengar di dalam gereja tersebut.</p>
<p>Apa yang saya pelajari dari kejadian ini adalah:</p>
<p>Tenyata mahasiswa saya tidak begitu kaku untuk datang ke gereja. nyatanya mereka begitu antusias untuk datang. bagi sebagian muslim, masuk rumah ibadah agama lain adalah sesuatu yang dilarang. tapi saya tidak melihat ini dari mahasiswa saya.</p>
<p>Beberapa mahasiswa saya begitu bersemangat dan antusias untuk mendapatkan ilmu tentang agama yang berbeda. Ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka tanyakan. Meski ada juga mahasiswa yang hanya menjadi pendengar</p>
<p>Saya harap langkah kecil ini bisa menjadi langkah yang lebih besar lagi di masa depan. Saya sangat antusias untuk ini, karena ketika kembali ke ruang kelas, beberapa mahasiswa bertanya kapan mereka bisa datang berkunjung ke rumah ibadat agama lain yang ada di Banda Aceh.</p>
<p>__<br />
Link lain: <strong><a href="http://atjehpost.co/articles/read/18481/Studi-Gender-Agama-Lain-Dosen-UIN-Ar-Raniry-Ajak-Mahasiswa-ke-Gereja" title="Studi Gender Agama Lain, Dosen UIN Ar-Raniry Ajak Mahasiswa ke Gereja (05 January 2015 - 17:20 pm; akses: 20150106; 1145 WIB)" target="_blank">Aceh Post</a></strong>; <strong><a href="http://aceh.tribunnews.com/2015/01/05/mahasiswi-berjilbab-belajar-kesetaraan-perempuan-di-gereja-banda-aceh" title="Mahasiswi Berjilbab Belajar Kesetaraan Perempuan di Gereja Banda Aceh (Senin, 5 Januari 2015 16:35 WIB; akses: 20150106; 1145 WIB)" target="_blank">Serambi Indonesia</a></strong>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/">Belajar di Australia, dosen IAIN ajak mahasiswa ke gereja di Banda Aceh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/senyap-gorontalo/" rel="bookmark" title="‘Senyap’ screened at  IAIN Gorontalo">‘Senyap’ screened at  IAIN Gorontalo </a></li>
<li><a href="/pasca-10-tahun-tsunami-masyarakat-aceh-kini-berhadapan-dengan-formalisasi-islam/" rel="bookmark" title="Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam">Pasca 10 tahun tsunami, masyarakat Aceh kini berhadapan dengan formalisasi Islam </a></li>
<li><a href="/kekerasan-agama-di-indonesia-disorot-media-australia/" rel="bookmark" title="Kekerasan agama di Indonesia disorot media Australia">Kekerasan agama di Indonesia disorot media Australia </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/belajar-di-australia-dosen-iain-ajak-mahasiswa-ke-gereja-di-banda-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2014 05:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyya]]></category>
		<category><![CDATA[AMAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[damai]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[ISIS]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jalsah salanah]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[masroor ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[mirza masroor ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[Qadian]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3362</guid>
		<description><![CDATA[<p>Press Ahmadiyya. Hazrat Mirza Masroor Ahmad berpidato di depan 24.000 hadirin yang berada di Qadian dan London.&#60;/&#62; Pemimpin dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad menutup pertemuan tahunan (Jalsah Salanah) ke-123 Jamaah Muslim Ahmadiyah di Qadian, India pada Minggu 28 Desember, 2014 dengan pidato yang menginspirasi iman dan mengesankan. Yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/jalsah-singapura/" rel="bookmark" title="[7 Desember 2014] Jalsah Salanah Singapura sukses dan lancar terlaksana">[7 Desember 2014] Jalsah Salanah Singapura sukses dan lancar terlaksana </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-uk-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah UK 2014">Penutupan Jalsah Salanah UK 2014 </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsa-salana-qadian-ke-122/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsa Salana Qadian Ke 122">Penutupan Jalsa Salana Qadian Ke 122 </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a title="Press Ahmadiyya" href="http://www.pressahmadiyya.com/2014/12/jalsa-salana-qadian-2014-concludes.html" target="_blank">Press Ahmadiyya</a>. Hazrat Mirza Masroor Ahmad berpidato di depan 24.000 hadirin yang berada di Qadian dan London.&lt;/&gt;</p>
<p align="justify">Pemimpin dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad menutup pertemuan tahunan (Jalsah Salanah) ke-123 Jamaah Muslim Ahmadiyah di Qadian, India pada Minggu 28 Desember, 2014 dengan pidato yang menginspirasi iman dan mengesankan.</p>
<p align="justify">Yang Mulia berpidatao pada sesi terakhir melalui sambungan satelit dari Masjid Baitul Futuh, London. Lebih dari 18,700 orang yang mewakili 37 negara, menghadiri Jalsah di Qadian , sementara lebih dari 5.400 orang berkumpul di London untuk menyaksikan pidato penutupan. Konvensi tahunan juga berlangsung akhir pekan ini di Pantai Gading, Nigeria, Senegal dan Pantai Barat Amerika.</p>
<p align="justify">Dalam pidatonya, Yang Mulia berbicara tentang bagaimana ajaran Islam sedang terdistorsi oleh kelompok-kelompok teroris dan ekstremis di seluruh dunia. Dengan tegas beliau mengutuk segala bentuk ekstremisme dan mengatakan bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah terus-menerus terlibat dalam menyebarkan pesan Islam yang damai.</p>
<p align="justify">Huzur mengatakan bahwa pertemuan tahunan juga sebagai sarana untuk memperlihatkan ajaran Islam yang benar.</p>
<p align="justify">Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Di mana di satu sisi pertemuan tahunan merupakan sarana bagi Muslim Ahmadi untuk meningkatkan pengetahuan dan spiritualitas religius mereka, ini juga sarana untuk menampilkan ajaran Islam yang indah dan karakter sejati Nabi Muhammad (saw) kepada dunia. &#8220;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Islam merupakan agama dengan ajaran mengenai perdamaian, saling mencintai dan keadilan yang tiada bandingnya. Maka sebagai duta dari Mesias Muhammadi (saw) adalah tugas kita untuk menyebarkan ajaran-ajaran ini ke seluruh penjuru dunia. &#8220;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa Muslim Ahmadi menjadi sasaran kelompok teroris dan ekstrimis. Beliau mengatakan dengan sedih baru sehari sebelumnya, seorang pemuda muslim ahmadi telah syahid di Gujranwala, Pakistan. Huzur mengatakan bahwa Muslim Ahmadi menjawab semua provokasi dan kebencian hanya dengan kedamaian dan doa karena inilah yang sesuai dengan ajaran Islam yang benar.</p>
<p align="justify">Beliau melanjutkan bahwa dalam bagian awal Al-Qur&#8217;an, Allah telah menyatakan bahwa Dia adalah &#8216;Tuhan Semesta Alam&#8217; dan dengan demikian Dia adalah Tuhan dari semua orang dari semua keyakinan. Dengan demikian, tidak mungkin seorang Muslim sejati untuk menunjukkan apa pun selain simpati untuk semua umat manusia.</p>
<p align="justify">Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Kita harus membangun standar yang sangat tinggi untuk kasih sayang bagi seluruh umat manusia. Cinta untuk setiap orang harus memancar keluar dari hati kita seperti air menyembur dari air mancur. Kita harus merawat mereka yang sakit atau mereka yang hatinya sakit karena sedih. Hanya dengan demikian kita dianggap perwakilan Islam yang sebenarnya. &#8220;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Huzur menegaskan bahwa kebebasan berkeyakinan dan beragama adalah prinsip dasar ajaran Islam. Beliau mengutip langsung dari Al-Qur&#8217;an untuk membuktikan bahwa Islam tidak mengizinkan hukuman bagi orang murtad dan dia juga menolak tuduhan yang sepenuhnya palsu bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Beliau mengatakan bahwa sejarah membuktikan bahwa Islam mencapai negara-negara seperti Afrika, Cina, Eropa, India dan bagian lain dunia melalui cara-cara dakwah yang damai.</p>
<p align="justify">Huzur juga menceritakan kunjungan sebelumnya ke Spanyol pada tahun 2013, ketika ia mengunjungi bagian Spanyol di mana umat Islam telah mencari perlindungan selama mungkin setelah diusir dari bagian lain negara tersebut. Huzur mengatakan ia telah bertemu dengan seorang akademisi Kristen yang mengatakan bahwa umat Islam harus merebut kembali Spanyol.</p>
<p align="justify">Sebagai tanggapan Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Tentu saja, suatu hari kita akan merebut kembali tanah dimana umat Islam pernah diusir secara paksa, tapi kami tidak akan melakukannya dengan mengacungkan pedang atau melalui kekerasan atau teror. Sebaliknya, kita akan merebut kembali melalui kekuatan cinta dan hanya cinta. &#8220;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Huzur mengecam acara terbaru yang disiarkan televisi GEO di mana beberapa orang yang disebut ulama berusaha secara terbuka menghasut kebencian terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah. Dia mengatakan bahwa para ulama melakukannya untuk mengalihkan kesalahan atas terorisme Pakistan dari teroris yang sebenarnya.</p>
<p align="justify">Huzur menutup pertemuan tahunan dengan berdoa untuk seluruh dunia dan menegaskan kembali komitmen Jamaah Muslim Ahmadiyah untuk menyebarkan perdamaian.</p>
<p align="justify">Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Kita Muslim Ahmadi setelah menerima Hadhrat Masih Mau&#8217;ud, berjanji untuk selamanya memberikan contoh ajaran Islam yang sejati. Ini adalah misi kita untuk menyebarkan perdamaian, cinta, kasih sayang dan rekonsiliasi di setiap tingkatan masyarakat dan di seluruh penjuru dunia. Kita tidak akan berhenti sampai segala bentuk kebencian telah berubah menjadi cinta dan kasih sayang. &#8220;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Pertemuan tahunan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad di mana ia meminta Muslim Ahmadi untuk berdoa bagi perdamaian dunia dan berakhirnya segala bentuk ekstremisme dan terorisme. Dia berdoa untuk berakhirnya krisis Ebola di Afrika dan juga berdoa agar tahun baru membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi Muslim Ahmadi di seluruh dunia.(NAN)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/">Penutupan Jalsah Salanah Qadian 2014</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/jalsah-singapura/" rel="bookmark" title="[7 Desember 2014] Jalsah Salanah Singapura sukses dan lancar terlaksana">[7 Desember 2014] Jalsah Salanah Singapura sukses dan lancar terlaksana </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsah-salanah-uk-2014/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsah Salanah UK 2014">Penutupan Jalsah Salanah UK 2014 </a></li>
<li><a href="/penutupan-jalsa-salana-qadian-ke-122/" rel="bookmark" title="Penutupan Jalsa Salana Qadian Ke 122">Penutupan Jalsa Salana Qadian Ke 122 </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/penutupan-jalsah-salanah-qadian-2014/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Natal dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Detroit</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/pesan-natal-dari-jamaah-muslim-ahmadiyah-detroit/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/pesan-natal-dari-jamaah-muslim-ahmadiyah-detroit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2014 07:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Rabthah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3249</guid>
		<description><![CDATA[<p>Editor yang terhormat, Saya seorang Muslim dan mencintai liburan. Saya suka lampu-lampu, aku suka warna-warni, saya juga suka pohon Natal. Tapi seperti kebanyakan kita semua, saya suka melihat sukacita dan kebahagiaan di wajah saudara-saudara Kristen saat mereka merayakan Natal. Al-Qur&#8217;an mengajarkan kita sebagai Muslim, untuk menghormati Yesus dari Nazaret, serta ibunya Maria. Jadi atas nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pesan-natal-dari-jamaah-muslim-ahmadiyah-detroit/">Pesan Natal dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Detroit</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/suasana-liburan-dan-hari-raya-natal-jai-jawa-tengah-kunjungi-keuskupan-agung-semarang/" rel="bookmark" title="Suasana libur dan hari raya Natal, JAI Jateng kunjungi KAS">Suasana libur dan hari raya Natal, JAI Jateng kunjungi KAS </a></li>
<li><a href="/silaturahmi-pelita-cirebon-dan-jamaah-muslim-ahmadiyah-di-manislor/" rel="bookmark" title="Silaturahmi PELITA Cirebon dan jamaah muslim Ahmadiyah di Manislor">Silaturahmi PELITA Cirebon dan jamaah muslim Ahmadiyah di Manislor </a></li>
<li><a href="/imam-jamaah-muslim-ahmadiyah-di-jepang/" rel="bookmark" title="Resepsi Bersejarah Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jepang">Resepsi Bersejarah Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jepang </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Editor yang terhormat,</p>
<p align="justify">Saya seorang Muslim dan mencintai liburan. Saya suka lampu-lampu, aku suka warna-warni, saya juga suka pohon Natal. Tapi seperti kebanyakan kita semua, saya suka melihat sukacita dan kebahagiaan di wajah saudara-saudara Kristen saat mereka merayakan Natal.</p>
<p align="justify">Al-Qur&#8217;an mengajarkan kita sebagai Muslim, untuk menghormati Yesus dari Nazaret, serta ibunya Maria. Jadi atas nama Jamaah Muslim Ahmadiyah Metro Detroit, Rochester Hills, saya menyampaikan rasa hormat ini untuk menjadi dasar bagi kerukunan antar umat beragama dan mengucapkan selamat menikmati liburan dengan penuh berkah dan bahagia.</p>
<p align="justify"><em>Mahir Osman; Sekretaris Humas, Jamaah Muslism Ahmadiyah &#8211; Metro Detroit</em></p>
<p align="justify">Seumber: <a title="patch.com" href="http://patch.com/michigan/ferndale/christmas-message-ahmadiyya-muslim-community-letter-editor-0" target="_blank">patch.com</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pesan-natal-dari-jamaah-muslim-ahmadiyah-detroit/">Pesan Natal dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Detroit</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/suasana-liburan-dan-hari-raya-natal-jai-jawa-tengah-kunjungi-keuskupan-agung-semarang/" rel="bookmark" title="Suasana libur dan hari raya Natal, JAI Jateng kunjungi KAS">Suasana libur dan hari raya Natal, JAI Jateng kunjungi KAS </a></li>
<li><a href="/silaturahmi-pelita-cirebon-dan-jamaah-muslim-ahmadiyah-di-manislor/" rel="bookmark" title="Silaturahmi PELITA Cirebon dan jamaah muslim Ahmadiyah di Manislor">Silaturahmi PELITA Cirebon dan jamaah muslim Ahmadiyah di Manislor </a></li>
<li><a href="/imam-jamaah-muslim-ahmadiyah-di-jepang/" rel="bookmark" title="Resepsi Bersejarah Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jepang">Resepsi Bersejarah Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jepang </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/pesan-natal-dari-jamaah-muslim-ahmadiyah-detroit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taliban Telah Memenggal Seorang Pria Ahmadi Pakistan yang Diculik Sejak 2009</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/taliban-telah-memenggal-seorang-pria-ahmadi-pakistan-yang-diculik-sejak-2009/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/taliban-telah-memenggal-seorang-pria-ahmadi-pakistan-yang-diculik-sejak-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2014 06:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Persekusi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyya]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[masroor ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[mirza masroor ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[ORI]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3246</guid>
		<description><![CDATA[<p>ahmadiyyatimes. Seorang pria Ahmadi, diculik di Pakistan oleh orang tak dikenal lima tahun yang lalu dan hilang sejak dipenggal oleh Taliban, telah ditemukan. Rincian mengerikan terungkap ketika seorang teroris dalam tahanan polisi mengakui keterlibatannya dalam penculikan Mubarak Ahmad Bajwa, seorang tetua Ahmadi dan seorang pemilik peternakan dari Chak 312-JB, Kathowali di provinsi Punjab. Bajwa diculik [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/taliban-telah-memenggal-seorang-pria-ahmadi-pakistan-yang-diculik-sejak-2009/">Taliban Telah Memenggal Seorang Pria Ahmadi Pakistan yang Diculik Sejak 2009</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/upacara-wisuda-jamiah-ahmadiyah-uk/" rel="bookmark" title="Upacara Wisuda Jamiah Ahmadiyah UK yang Ketiga Diselenggarakan">Upacara Wisuda Jamiah Ahmadiyah UK yang Ketiga Diselenggarakan </a></li>
<li><a href="/seorang-dokter-ahmadi-disyahidkan/" rel="bookmark" title="Seorang Dokter Ahmadi Disyahidkan di Mirpur Khas, Sindh, Pakistan">Seorang Dokter Ahmadi Disyahidkan di Mirpur Khas, Sindh, Pakistan </a></li>
<li><a href="/seorang-ahmadi-ditembak-mati-di-gujranwala-pakistan/" rel="bookmark" title="Seorang Ahmadi Ditembak Mati di Gujranwala Pakistan">Seorang Ahmadi Ditembak Mati di Gujranwala Pakistan </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a title="ahmadiyyatimes" href="http://ahmadiyyatimes.blogspot.com/2014/12/pakistan-taliban-beheaded-ahmadi-man.html" target="_blank">ahmadiyyatimes</a>. Seorang pria Ahmadi, diculik di Pakistan oleh orang tak dikenal lima tahun yang lalu dan hilang sejak dipenggal oleh Taliban, telah ditemukan.</p>
<p align="justify">Rincian mengerikan terungkap ketika seorang teroris dalam tahanan polisi mengakui keterlibatannya dalam penculikan Mubarak Ahmad Bajwa, seorang tetua Ahmadi dan seorang pemilik peternakan dari Chak 312-JB, Kathowali di provinsi Punjab.</p>
<p align="justify">Bajwa diculik dari rumah pada bulan Oktober 2009 bersama dengan pegawai peternakan, seorang anak muda sekitar 14 tahun. Pemuda itu kemudian dibebaskan dengan instruksi untuk mendapatkan uang tebusan bagi Bajwa.</p>
<p align="justify">Salah satu tersangka, yang diungkapkan hanya dengan nama depannya, Wajid, dari kelompok Afzal Fauji Taliban di Gujarat, mengatakan kepada polisi mereka telah menculik Bajwa untuk mendapatkan uang tebusan dan menahannya di rantai di ruang bawah tanah sebuah masjid di Kotli sampai mereka membunuhnya.</p>
<p align="justify">Tersangka mengaku korban diculik setelah rekannya, seorang Kristen yang masuk Islam, telah menyatakan bahwa Bajwa, sebagai seorang Ahmadi adalah &#8216;seorang penghujat Nabi Suci Muhammad (saw). &#8220;</p>
<p align="justify">Sebelumnya dikenal sebagai Piyara Masih, Ahmad Baba dan keluarganya yang buruh tani di peternakan Bajwa. Masih, setelah ia masuk Islam, direkrut oleh Taliban dan menerima pelatihan teroris di Waziristan Utara, menurut laporan surat kabar Inggris Pakistan</p>
<p align="justify">Menurut polisi setempat, Taliban menuntut uang tebusan bagi pembebasan Bajwa sebesar Rs 20 juta ,tetapi kemudian dia dipenggal ketika mereka gagal untuk mendapatkan uang tebusan.</p>
<p align="justify">Pemimpin Ahmadiyah sedunia, Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengisahkan obituari korban pada khotbah jum&#8217;at 19 Desember.</p>
<p align="justify">Hazrat Ahmad mengatakan, salah satu tersangka menceritakan kisah pembunuhan yang mengerikan mengatakan kepada penyelidik bahwa setelah mereka menggorok leher Bajwa, mereka memutilasi tubuhnya menjadi potongan-potongan dan dibuang di kuburan dangkal di jurang.</p>
<p align="justify">Menurut polisi, tersangka mengatakan mereka melaksanakan perintah dari komandan mereka untuk membunuh Ahmadiyah karena menjadi &#8216;penghujat Nabi saw. &#8220;</p>
<p align="justify">Hazrat Ahmad berdoa untuk korban, keluarganya dan bagi para korban dan keluarga pembantaian sekolah baru-baru ini di Peshawar, Pakistan.</p>
<p align="justify">Piyara Masih, aka Ahmad Baba, tewas dalam pertarungan polisi Gujarat vs teroris, dan keluarganya menolak menerima tubuhnya untuk dimakamkan, koran harian Dawn melaporkan. (NAN)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/taliban-telah-memenggal-seorang-pria-ahmadi-pakistan-yang-diculik-sejak-2009/">Taliban Telah Memenggal Seorang Pria Ahmadi Pakistan yang Diculik Sejak 2009</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/upacara-wisuda-jamiah-ahmadiyah-uk/" rel="bookmark" title="Upacara Wisuda Jamiah Ahmadiyah UK yang Ketiga Diselenggarakan">Upacara Wisuda Jamiah Ahmadiyah UK yang Ketiga Diselenggarakan </a></li>
<li><a href="/seorang-dokter-ahmadi-disyahidkan/" rel="bookmark" title="Seorang Dokter Ahmadi Disyahidkan di Mirpur Khas, Sindh, Pakistan">Seorang Dokter Ahmadi Disyahidkan di Mirpur Khas, Sindh, Pakistan </a></li>
<li><a href="/seorang-ahmadi-ditembak-mati-di-gujranwala-pakistan/" rel="bookmark" title="Seorang Ahmadi Ditembak Mati di Gujranwala Pakistan">Seorang Ahmadi Ditembak Mati di Gujranwala Pakistan </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/taliban-telah-memenggal-seorang-pria-ahmadi-pakistan-yang-diculik-sejak-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membedah hukum dewasa ini</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/bedah-hukum/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/bedah-hukum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2014 00:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HukumOnline.com]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[J.E. Sahetapy]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[Sampang]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3130</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh Prof J.E. Sahetapy(*) HukumOnline.com SAYA perlu menyebut beberapa pelanggaran HAM berat agar tidak kelupaan dan semoga bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini oleh Pemerintah Jokowi-JK: 1. Kelompok Syiah terusir dari desa Karangayam, Kecamatan Omben dan desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang di Madura; 2. Kelompok Ahmadiyah terkatung-katung di pengungsian di Asrama Transito, Mataram, Lombok; 3. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/bedah-hukum/">Membedah hukum dewasa ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-tagih-janji-jokowi-soal-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah">Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-ingatkan-jokowi-jk-soal-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan/" rel="bookmark" title="Komnas HAM ingatkan Jokowi-JK soal kebebasan beragama dan berkeyakinan">Komnas HAM ingatkan Jokowi-JK soal kebebasan beragama dan berkeyakinan </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>Prof J.E. Sahetapy</strong>(*)<br />
<strong><a title="Membedah Hukum Dewasa Ini  Oleh: Prof JE Sahetapy (akses: 20141203; 0730 WIB)" href="http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt547c187b52c18/membedah-hukum-dewasa-ini-broleh--prof-je-sahetapy-" target="_blank">HukumOnline.com</a></strong></p>
<blockquote><p>SAYA perlu menyebut beberapa pelanggaran HAM berat agar tidak kelupaan dan semoga bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini oleh Pemerintah Jokowi-JK: 1. Kelompok Syiah terusir dari desa Karangayam, Kecamatan Omben dan desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang di Madura; 2. Kelompok Ahmadiyah terkatung-katung di pengungsian di Asrama Transito, Mataram, Lombok; 3. Penyegelan Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, Jawa Barat (sudah 5 tahun); 4. Izin pendirian Masjid Baluplat di NTT (3 tahun); 5. Penyegelan Gereja HKBP di Bekasi (2 tahun) di Jawa Barat (sumber Kompas 2 November 2014).</p></blockquote>
<p>SENIN, 01 DESEMBER 2014</p>
<p><strong>Harus terus dibina dan dipupuk budaya malu seperti di Jepang dan budaya rasa bersalah seperti di Eropa.</strong></p>
<p><em>Bergen kan men zien, maar het recht kan men niet zien.<br />
(Gunung-gunung dapat dilihat, tetapi hukum tidak dapat dilihat)</em><br />
&#8211;<strong>L.J. van Apeloorn</strong> (1954)</p>
<p><strong>TIDAK</strong> dikandung maksud untuk membedah hukum secara holistik. Itu tidak mungkin dilakukan di atas kertas beberapa lembar ini. Yang dibedah hanyalah hukum pidana ; itupun dari perspektif kriminologi dan viktimologi. Pernah ditulis oleh Vrij, Guru Besar hukum pidana Belanda (tahun lupa), bahwa “<em>De kriminologie riep het strafrecht tot de werkelijkheid</em>” (Kriminologi menyadarkan hukum pidana akan kenyataan yang ada). Hal inipun dilakukan dalam tulisan ini dalam segenggam dari perspektif kriminologi dan viktimologi dalam konteks implementasi.</p>
<p>Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 hingga runtuhnya Orde Baru yang diperjuangkan oleh para mahasiswa, dalam garis besar dalam segenggam, hukum pidana dalam implementasinya, untuk meminjam lagi ungkapan Van Apeldoorn (1954) ialah ”<em>Wanneer wij het recht zo zien: als ordening der menselijke levensverhoudingen, dan krijgen ook de dode wetsartikelen voor ons een andere betekenis</em>” (Apabila kami melihat hukum demikian: sebagai penataan dari hubungan kehidupan kemanusiaan, maka juga pasal-pasal mati undang-undang yang kita dapati mempunyai arti yang lain).</p>
<p>Tidak dikandung maksud untuk mengangkat dan membedah kembali, apalagi menggali pengalaman-pengalaman yang menyedihkan, yang merisaukan hati dan pikiran pada waktu itu, yang bukan saja memperkosa kebenaran dan keadilan, tetapi juga HAM seolah-olah di-”<em>desavoueer</em>” atau tidak diakui. Untuk itu bertalian dengan implementasi hukum, juga yang dilakukan di dan oleh pengadilan, pada waktu itu saya menggunakan ungkapan ”<strong>power by remote control</strong>”.</p>
<p>Sampai pada suatu tahap dan aras tertentu, hal itu yaitu pelanggaran HAM masih berlaku dan dengan frekuensi yang menakjubkan. Mustahil alat-alat negara dan aparat penegak hukum tidak tahu, apalagi Presiden SBY. Kalau pelanggaran HAM di Miami, Amerika Serikat direspon oleh Presiden SBY dengan wawancara di halaman istana negara demi konsumsi politik dalam negeri, maka ibarat pepatah: ”<em>kuman di seberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak tampak</em>”. Ini yang disebut politik pencitraan yang munafik alias mencla-mencle. Bahkan kasus HAM yang sudah ”<em>in kracht van gewijsde</em>” oleh Mahkamah Agung RI tidak digubris oleh SBY sebagai ”commander in chief RI”.</p>
<p>Secara menyolok meskipun KPK telah membantai orang-orang terhormat di jajaran pemerintahan, di Senayan sampai di daerah-daerah luar Jawa dan disiarkan oleh semua media pers, masih belum tampak juga bahwa fenomena korupsi itu telah berakhir atau selesai. Kata orang Negeri Kincir Angin: ”<em>voor hoe lang nog</em>!” (masih berapa lama lagi), meskipun disadari bahwa itu baru puncak gunung es. Sudah demikian parahkah mental dan rusaknya budaya bangsa ini !? Simak berita kompas (11-11-14) : “Meski Bergaji Besar Pegawai Tetap Korupsi”. Jadi inikah ”mafia negara” atau ”negara mafia”.</p>
<p>Dan Presiden-Presiden setelah Soeharto lebih banyak ”mendandani” diri dan kelompoknya, belum tampak ada gebrakan yang keras dan tegas terhadap korupsi. Gus Dur mungkin sebagai Presiden perkecualian sampai melabel Senayan sebagai taman kanak-kanak, cahaya harapan kebersihan tanpa korupsi di ufuk timur belum tampak terbit juga. Kemudian muncul pahlawan dengan sejumlah janji dalam bakul politik pencitraan. Sayang, sampai pada ”<em>de laatste stuiptrekken</em>” alias ”nafas terakhir” sehingga muncul dua kubu politik seperti tidak kenal alias lupa pada ”Weltanschauung” Pancasila, SBY seperti terus keliru bermain kartu as politiknya. Dalam jagad media sosial muncul plesetan SBY yaitu antara lain ”<strong>Shamed By You</strong>”. Apakah ini sebagai ”Blunder sepuluh syarat keramat” (Gatra 2-8 Oktober 2014), entahlah!</p>
<p>Setelah Orde Baru tumbang, HAM seperti terus diperkosa, dan meskipun dipajang politik pencitraan yang mencla-mencle oleh SBY, saya perlu menyebut beberapa pelanggaran HAM berat agar tidak kelupaan dan semoga bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini oleh Pemerintah Jokowi-JK:</p>
<ol>
<li>Kelompok <strong>Syiah</strong> terusir dari desa Karangayam, Kecamatan Omben dan desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang di Madura.</li>
<li>Kelompok <strong>Ahmadiyah</strong> terkatung-katung di pengungsian di Asrama Transito, Mataram, Lombok.</li>
<li>Penyegelan <strong>Gereja Kristen Indonesia Yasmin</strong> di Bogor, Jawa Barat (sudah 5 tahun).</li>
<li>Izin pendirian <strong>Masjid Baluplat</strong> di NTT (3 tahun).</li>
<li>Penyegelan <strong>Gereja HKBP</strong> di Bekasi (2 tahun) di Jawa Barat (sumber <em>Kompas</em> 2 November 2014).</li>
</ol>
<p>Tidak perlu ditanya data masa lampau. Aparat Sipil (Polisi) dan terutama militer tidak bisa begitu saja cuci tangan. Simak “konflik” yang oleh rakyat dirasakan terutama di Indonesia Timur khusus di Maluku seolah-olah direkayasa oleh dan dari Pusat.</p>
<p>Setelah Reformasi menjebol Orde Baru, diperkirakan akan ada “trace” baru. Ternyata pemain-pemain lama muncul kembali dengan topeng-topeng baru. Sebagian besar dari mereka adalah <strong>Sengkuni-Sengkuni</strong> lama dan ada pula yang baru, baik di kalangan pemerintahan maupun dan terutama di Senayan. Mereka bergaya dan ”ribut” dan seperti lupa ungkapan kolonial bahwa ”<em>de pot verwijt de ketel</em>” alias pantat belanga menuduh atau mengkritisi pantat wajan, padahal dua-dua sama hitamnya. Hal itu secara ”mutatis mutandis” terulang kembali di akhir pemilu yang baru lalu. Senayan seolah-olah menciptakan dua Blok. Sejarah seperti terulang!</p>
<p>Dunia kepolisian meskipun di bawah otoritas RI 1 dan Kejaksaan ”idem dito”, dua-dua sama payah dalam rangka memberantas dan mengadili korupsi. Saya lalu teringat kasus ”cicak lawan buaya”. Istilah <strong>deponering</strong> masih dipakai, padahal di Belanda sudah lama mengganti dengan istilah <strong>seponering</strong>. Kepolisian seperti sulit menyelesaikan kasus perut buncit yang kaya raya. Banyak ceritera yang tidak sedap tentang kejaksaan, dulu dan sejak kematian Jaksa Agung Lopa. Baik saja tidak cukup. Jaksa Agung harus berani. Kenakalan jaksa makin merisaukan berdasarkan pengaduan masyarakat yang diterima Komisi Kejaksaan. Selama 2013 terdapat 168 jaksa yang melanggar kode etik dan 18 jaksa dihukum berat dengan 5 orang dipecat. (Kompas 06-11-14).</p>
<p>Dalam berbagai dilema konstelasi pada waktu itu, muncul gagasan untuk menciptakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah mengalami perubahan undang-undang, ternyata KPK bisa menggebrak dengan segala kelemahan ”inhaerensi” yang ada padanya, meskipun ia seperti disabot dari dan di Senayan, juga pernah oleh pihak kepolisian. Beberapa akademisi murahan seperti ikut membantu dan menentang secara terselubung KPK, dan Menteri Hukum dan HAM seperti tidak mau membela ”<strong>lex specialis derogat legi generali</strong>” dengan alasan murahan bahwa RUU yang sudah diajukan pantang dicabut kembali. (cf. Tempo 02-03-14). Memang benar ungkapan kolonial : ”Zo heer, zo knecht”. Arti bebas : ”seperti majikannya yang mudah obral janji”. Teringat saya pada ”Blunder Sepuluh Syarat Keramat” (Gatra 2-8 Oktober 2014. Belum lagi soal ”<strong>Napi korupsi bebas berkeliaran</strong>” (Kompas 30-10-14)</p>
<p>Sepanjang saya telusuri bahan bacaan bertalian dengan korupsi, sangatlah menarik untuk dicatat ”para pejabat negara <strong>terkorup</strong>”. Menurut Advokat Indonesia News thn X, edisi 6, 2013, ada 19 orang : 1. Pejabat Kemenpora. 2. Mantan Kakorlantas Polri. 3. Mantan pegawai Dirjen Pajak Kementerian Keuangan. 4. Pejabat Kementerian Kehutanan Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Dephut. 5. Mantan Kabareskim Polri. 6 Mantan Pegawai Dirjen Pajak. 7. Mantan Bupati Buol. 8. Mantan Deputi Senior Bank Indonesia. 9. Mantan Gubernur Sumatera Utara. 10. Mantan Gubernur Bengkulu. 11. Mantan Gubernur Maluku Utara. 12. Mantan Walikota Bekasi. 13. Mantan Wakil Walikota Cirebon. 14. Mantan Bupati Subang. 15. Mantan Bupati Lampung Timur. 16. Mantan Gubernur BI. 17. Mantan Menteri Kelautan. 18. Mantan Walikota Salatiga. 19. Mantan Gubernur Bank Indonesia. Quo Vadis RI kita ini !?</p>
<p>Bayangkan <strong>309 Kepala Daerah</strong> terjerat korupsi (MI, 9 Okt 2013). Keputusan hukum ternyata bisa dibeli. Di Jkt 83,8% percaya ; 69,2% di Jayapura percaya (Kompas 10 Okt 2005). <strong>60.000 dosen tidak layak</strong> (Seputar Ind, 4 Sept 2008). <strong>Plagiat marak</strong> di kalangan dosen (Jawa Pos, 3 Okt 2013). <strong>Produksi 1.600 ijasah palsu</strong> (JP 14 Juni 2012). Kiyai mesum setubuhi 2 santriwati dan cabuli 5 korban (JP 20 Febr 2014). <strong>Siswi SMP di sekolah di Jkt Pusat diperkosa</strong>, lalu direkam 6 teman sekolah di depan siswi-siswi lain (JP 18 Okt 2013). Belum lagi tentang kasus Bank Century dan lain-lain yang belum sempat dicatat. Sekali lagi : Quo Vadis bangsa dan negara kita !</p>
<p>Saya ingin mengakhiri tulisan pendek ini dengan pengamatan saya bahwa Indonesia dewasa ini dalam keadaan <strong>anomie</strong> (Durkheim 1952 dan Merton 1957). Namun, tanpa lupa akan peringatan Adolph Quetelet (1835) bahwa ”<strong>Societies have the criminals they deserve</strong>”. <strong>Pemerintah sekarang ini harus memperkuat KPK dalam rangka memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya, meskipun itu menyangkut (para) pejabat (ter) tinggi di masa lampau</strong>.</p>
<p>Sementara itu harus terus dibina dan dipupuk <strong>budaya malu</strong> seperti di Jepang dan <strong>budaya rasa bersalah</strong> seperti di Eropa. Mulailah menanam hal itu di taman kanak-kanak dan terus dipelihara di Sekolah Dasar. Kalau dimulai dari Sekolah Menengah, apalagi di Perguruan Tinggi, maka hal itu sudah terlambat. Ungkapan kolonial: “Men kan geen ijzer met handen breken” (Orang tidak bisa patah besi dengan tangan). Itu berarti: besi harus terus dipanasi, baru bisa dibengkokkan. Agama sejak kecil cukup dididik di rumah. Di sekolah, terutama di Sekolah Dasar ditanam mata pelajaran <strong>Budi Pekerti</strong>. Jangan lupa: “sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain”.</p>
<p>_<br />
(*) <em>Ketua Komisi Hukum Nasional</em></p>
<p>(**) <em>Tulisan ini disajikan untuk acara Dialog Hukum KHN-PSHK-ILUNI FHUI-Hukumonline “Pekerjaan Rumah Sektor Hukum Pemerintahan Jokowi-JK”, 19 November 2014</em>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/bedah-hukum/">Membedah hukum dewasa ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-tagih-janji-jokowi-soal-ahmadiyah/" rel="bookmark" title="Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah">Komnas HAM tagih janji Jokowi soal Ahmadiyah </a></li>
<li><a href="/komnas-ham-ingatkan-jokowi-jk-soal-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan/" rel="bookmark" title="Komnas HAM ingatkan Jokowi-JK soal kebebasan beragama dan berkeyakinan">Komnas HAM ingatkan Jokowi-JK soal kebebasan beragama dan berkeyakinan </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/bedah-hukum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kolom agama dalam perspektif HAM</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/kolom-agama/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/kolom-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2014 21:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahai]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Imparsial]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas.com]]></category>
		<category><![CDATA[Konghucu]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen Protestan]]></category>
		<category><![CDATA[KTP]]></category>
		<category><![CDATA[Masyumi]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Dalam Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Murba]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[PNI]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Protestan]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[PSII]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tjahjo Kumolo]]></category>
		<category><![CDATA[Todung Mulya Lubis]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3119</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kompas.com Malah, tak sedikit yang dibunuh dan diusir. Warga Ahmadiyah dan Syiah mengalami hal itu sampai hari ini. Kita telah membuat diskriminasi dan segregasi! Kamis, 27 November 2014 &#124; 14:22 WIB Oleh: Todung Mulya Lubis KOMPAS.com &#8211; NANI Maryani Ramli, seorang perempuan, pada 1956 memiliki surat keterangan penduduk (belum disebut kartu tanda penduduk atau KTP) [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/kolom-agama/">Kolom agama dalam perspektif HAM</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/oktober-2014-pidato-kenegaraan-jokowi-kecewakan-gusdurian/" rel="bookmark" title="[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian">[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian </a></li>
<li><a href="/5-isu-agama/" rel="bookmark" title="Pemerintah perhatikan 5 isu penting di bidang agama">Pemerintah perhatikan 5 isu penting di bidang agama </a></li>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://nasional.kompas.com/read/2014/11/27/14220451/Kolom.Agama.dalam.Perspektif.HAM" title="Kolom Agama dalam Perspektif HAM (akses: 20141203; 2018 WIB)" target="_blank">Kompas.com</a></strong></p>
<blockquote><p>Malah, tak sedikit yang dibunuh dan diusir. Warga <strong>Ahmadiyah</strong> dan Syiah mengalami hal itu sampai hari ini. Kita telah membuat diskriminasi dan segregasi!</p></blockquote>
<p>Kamis, 27 November 2014 | 14:22 WIB</p>
<p>Oleh: <strong>Todung Mulya Lubis</strong></p>
<p><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; NANI Maryani Ramli, seorang perempuan, pada 1956 memiliki surat keterangan penduduk (belum disebut kartu tanda penduduk atau KTP) untuk Daerah Kota Praja Jakarta Raya. Di sana tak tersua kolom agama.</p>
<p>Yang ada hanya kolom nama, jenis kelamin, bangsa (suku), umur (tanggal kelahiran), tempat kelahiran, pekerjaan, dan alamat. Sama sekali tak ada kolom agama. KTP perempuan tersebut dikeluarkan Lurah Petojo dengan stempel kelurahan.</p>
<p>Di Surabaya pada 1958, Soemiati mendapat kartu penduduk warga negara Indonesia yang kolom-kolomnya lebih kurang sama: tak juga memiliki kolom agama. Saat itu tiada yang mempertanyakan mengapa tidak ada kolom agama sebab agama diper- lakukan sebagai kawasan pribadi, dalam arti: merupakan urusan manusia bersangkutan. Negara tak perlu tahu agama apa yang dianut seseorang.</p>
<p><strong>Konsep kewargaan</strong></p>
<p>Kolom agama kala itu tak ada karena, meski dalam jagat politik Indonesia, partai-partai Islam sangat kuat (Masyumi, NU, PSII, Persis, dan lain-lain). Banyak juga partai beraliran nasionalis, sosialis, dan komunis (PNI, PSI, PKI, Murba, dan lain-lain). Apakah tidak adanya kolom agama karena kesepahaman para pemimpin negeri yang menganggap agama bukan urusan negara? Atau, tak adanya kolom agama itu dikarenakan kompromi politik antarsemua kekuatan politik?</p>
<p>Tak ada yang bisa menjawab pasti. Namun, kita bisa berspekulasi bahwa pada zaman yang banyak diasosiasikan sebagai zaman liberal itu, turunannya adalah bahwa konsep kewargaan lebih diutamakan. Yang terpenting apakah seseorang itu warga negara atau bukan. Seorang warga negara bebas memeluk agama atau kepercayaan atau tak beragama sama sekali. Biarlah urusan agama itu terpulang kepada manusia bersangkutan. Nyatanya, pabrik masyarakat kita tetap kukuh meski isinya kumpulan manusia dari beragam agama dan ideologi politik. Negeri ini tetap utuh. Kohesi sosial terjaga.</p>
<p>Kapan isu agama muncul dalam kebijakan pemerintah? Pada 1965, melalui UU No 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan Penodaan Agama, disebutkan dalam penjelasannya bahwa agama yang dipeluk penduduk di Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Tak salah apabila orang menafsirkan, adanya pengakuan negara terhadap agama tertentu ini dipicu juga oleh ketakutan atas bahaya komunisme yang dianggap tak beragama.</p>
<p>Tuduhan kudeta oleh PKI saat itu membuat mutlaknya seseorang memiliki agama jadi penting. Mereka yang tak beragama akan mudah sekali dituduh sebagai komunis dan ditangkap atau hilang. Pertanyaannya: bagaimana dengan agama lainnya, seperti Ahmadiyah, Bahai, Yahudi, dan semua aliran kepercayaan?</p>
<p>Di sinilah diskriminasi itu bermula. Orang Tionghoa sejak 1967 dilarang melaksanakan upacara agama mereka secara terbuka. Lebih jauh dalam KTP tak boleh ada agama Konghucu dan orang Tionghoa harus menggunakan nama Indonesia, bukan nama Tionghoa. Mereka kehilangan hak-hak sipil mereka. Bayangkan, bagaimana nasib penganut agama dan kepercayaan lainnya?</p>
<p>Pengukuhan keberadaan agama yang diakui negara kembali dilakukan melalui Instruksi Presiden Nomor 1470 Tahun 1978 yang ditegaskan Surat Edaran Mendagri No 477/1978 yang intinya hanya mengakui lima agama: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Selanjutnya, dalam Tap MPR No II/MPR/1998 dikatakan bahwa penganut kepercayaan tak boleh mengarah pada pembentukan agama baru dan sedapat mungkin diarahkan bergabung dengan salah satu agama yang diakui negara. Tiada tempat buat agama lain dan kepercayaan.</p>
<p>Baru pada 2000, 35 tahun kemudian, ketika Gus Dur menjadi Presiden, keluar Keppres No 6/2000 yang mengatakan bahwa upacara keagamaan penganut Konghucu bisa dilaksanakan secara terbuka tanpa memerlukan izin. Inilah salah satu produk reformasi yang penting. Sepertinya iklim kebebasan beragama sudah mulai tumbuh dan Presiden Gus Dur yang sangat pro kemajemukan memang memberi angin segar untuk tumbuhnya masyarakat yang pluralistis.</p>
<p>Namun, dalam praktik, iklim masyarakat yang pluralistis itu tidak sepenuhnya mulus. Dalam kartu identitas penduduk atau KTP, misalnya, dalam kolom agama, pemilik KTP tersebut harus mencantumkan agamanya dan agama tersebut harus salah satu dari agama yang diakui. Seorang penganut agama Bahai mengeluhkan bahwa dia tak boleh mencantumkan agama Bahai di kolom agama di KTP-nya. Dia harus menulis salah satu agama yang diakui oleh negara untuk memperoleh KTP itu.</p>
<p>Semua ini mempunyai dampak turunan: kesulitan mengurus dan mencatatkan perkawinan, kesulitan mendapatkan akta kelahiran anak, memperoleh pekerjaan, dan sebagainya. Diskriminasi disyahkan. Akibatnya, banyak orang yang memilih tidak mempunyai KTP. Lebih jauh, dalam masyarakat mereka, yang bukan berasal dari agama yang diakui akan dituduh sebagai tak beragama atau mengikuti aliran agama sesat.</p>
<p><strong>Kebebasan beragama</strong></p>
<p>Meski Reformasi sudah mulai sejak 1998 dan Indonesia memiliki jaminan hak asasi yang kuat untuk menjalankan agama dan keyakinannya, baik itu atas dasar UUD 1945 maupun Kovenan Hak Sipil dan Politik, persoalan kebebasan beragama ini tak mendapat jaminan. Banyak kasus ketika penganut agama minoritas dan agama yang tak diakui negara mengalami intimidasi, teror, dan kesulitan menjalankan agama mereka. Malah, tak sedikit yang dibunuh dan diusir. Warga Ahmadiyah dan Syiah mengalami hal itu sampai hari ini. Kita telah membuat diskriminasi dan segregasi!</p>
<p>Ihwal kolom agama yang harus diisi dengan agama yang diakui hanya satu soal, tetapi ini soal yang sangat mengganggu dan menghambat banyak orang yang  mencari pekerjaan, mendapatkan pelayanan pemerintah, dan sebagainya. UU No 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan sepertinya memberi jalan keluar dengan membolehkan kolom agama tak diisi dan mereka tetap bisa memperoleh KTP dan data mereka dicatat dalam database kependudukan.</p>
<p>Namun, dalam praktik, kolom agama itu dipaksakan diisi. Sedi- kit yang berani melawan. Syukur- lah, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo membikin gebrakan dengan mengatakan bahwa kolom agama itu tidak perlu diisi. Mendagri memulihkan kembali hak warga negara memilih agama mereka dan tak perlu mencatatkannya dalam dokumen apa pun, termasuk KTP.</p>
<p>Langkah Mendagri ini terbilang maju walau seyogianya Mendagri harus melangkah selangkah lagi: menghapus saja kolom agama pada KTP. Harus diakui bahwa pencantuman kolom agama ini sangat mungkin menjadi sumber diskriminasi, dan sebagai negara yang mengakui semua warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum, merupakan kewajiban kita menghilangkan semua peluang terjadinya diskriminasi.</p>
<p>Seandainya secara statistik negara memerlukan data mengenai jumlah penganut setiap agama, data itu bisa diperoleh melalui berbagai survei dan sensus yang secara berkala dilaksanakan.</p>
<p>Perihal kolom agama ini tak perlu diperdebatkan terlalu panjang. Kebanyakan negara di dunia, termasuk negara tetangga dan negara Timur Tengah, tidak punya kolom agama dalam KTP mereka. Kebijakan tentang KTP tanpa kolom agama bukanlah sesuatu yang ahistoris.</p>
<p><strong>Todung Mulya Lubis<br />
Ketua Dewan Pendiri Imparsial</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/kolom-agama/">Kolom agama dalam perspektif HAM</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/oktober-2014-pidato-kenegaraan-jokowi-kecewakan-gusdurian/" rel="bookmark" title="[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian">[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian </a></li>
<li><a href="/5-isu-agama/" rel="bookmark" title="Pemerintah perhatikan 5 isu penting di bidang agama">Pemerintah perhatikan 5 isu penting di bidang agama </a></li>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/kolom-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama sebagai permainan politik: meningkatnya intoleransi di Indonesia</title>
		<link>http://warta-ahmadiyah.org/agama-permainan-politik/</link>
		<comments>http://warta-ahmadiyah.org/agama-permainan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2014 13:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[warta-ahmadiyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[2014]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Sueady]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadi]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[JokoWi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan beragama]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[menteri agama]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Open Democracy]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[UIN]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warta-ahmadiyah.org/?p=3113</guid>
		<description><![CDATA[<p>Open Democracy AHMAD SUEADY 1 December 2014 Intolerasi agama di Indonesia yang meningkat berasal dari suatu pakta politik antara mantan presiden, Bambang Yudhoyono, dan kelompok Muslim dengan tingkat toleransi rendah di negara itu. Presiden yang baru, Joko Widodo, harus menghentikan kekerasan itu sebelum terlambat. Sebuah kontribusi untuk debat openGlobalRights, Agama dan Hak Asasi Manusia. ENGLISH [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/agama-permainan-politik/">Agama sebagai permainan politik: meningkatnya intoleransi di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/oktober-2014-pidato-kenegaraan-jokowi-kecewakan-gusdurian/" rel="bookmark" title="[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian">[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian </a></li>
<li><a href="/president-yudhoyonos-blind-side-religious-violence-indonesia/" rel="bookmark" title="President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia">President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia </a></li>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
</ol>

<div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="https://www.opendemocracy.net/openglobalrights/ahmad-sueady/agama-sebagai-permainan-politik-meningkatnya-intoleransi-di-indonesia" title="Agama sebagai permainan politik: meningkatnya intoleransi di Indonesia (akses: 20141202; 1825 WIB)" target="_blank">Open Democracy</a></em></p>
<p><strong>AHMAD SUEADY</strong><br />
1 December 2014</p>
<blockquote><p>Intolerasi agama di Indonesia yang meningkat berasal dari suatu pakta politik antara mantan presiden, Bambang Yudhoyono, dan kelompok Muslim dengan tingkat toleransi rendah di negara itu. Presiden yang baru, Joko Widodo, harus menghentikan kekerasan itu sebelum terlambat. Sebuah kontribusi untuk debat <a href="https://www.opendemocracy.net/openglobalrights" target="_blank">openGlobalRights</a>, <a href="http://www.opendemocracy.net/openglobalrights/religion-and-human-rights" target="_blank">Agama dan Hak Asasi Manusia</a>.</p></blockquote>
<p><strong><a href="https://www.opendemocracy.net/openglobalrights/ahmad-sueady/religion-as-political-game-rising-intolerance-in-indonesia" title="Religion as a political game: rising intolerance in Indonesia (akses: 20141202; 1825 WIB)" target="_blank">ENGLISH</a></strong></p>
<p>Di Indonesia, intoleransi agama oleh sebagian Muslim Sunni telah meningkat. Populasi dari negara berpenduduk 250 juta orang, sekitar 87% Muslim, dengan Muslim Sunni sekitar <a href="http://www.pewforum.org/2011/01/27/future-of-the-global-muslim-population-sunni-and-shia/" target="_blank">99% dari populasi itu</a>. Muslim Syi’ah sekitar 0,5% dari seluruh Muslim Indonesia, dengan Ahmadiyah sekitar 0,2%. Hingga satu dekade yang lalu, hanya ada sangat sedikit ketegangan agama antara kelompok-kelompok ini, tapi sekarang, elemen-elemen di dalam mayoritas Sunni menjadi semakin antitesis terhadap minoritas agama.</p>
<p>Masalah agama di Indonesia adalah bagian dari tren regional yang lebih luas. Di wilayah di dekatnya, Brunei, pemerintah telah melarang sedikitnya delapan sekolah bagus dan agama yang “menyimpang” karena mengajarkan mata pelajaran agama non-Islam. Hampir sama, Malaysia telah melarang 56 interpretasi Islam yang “menyimpang”, termasuk Ahmadiyah, Islamailiah, Syi’ah, dan Bahai. Di Myanmar, pemerintah terlibat terhadap pelarangan Muslim Rohingya karena tekanan para pemimpin agama Buddha.</p>
<p>Menurut akademisi Amerika <a href="http://jeremymenchik.com/" target="_blank">Jeremy Menchik</a>, intolerasi agama di Indonesia selama dekade terakhir berasal dari meningkatnya “nasionalisme yang saleh” yang berfokus pada “<a href="https://jeremymenchik.files.wordpress.com/2014/07/s0010417514000267a.pdf" target="_blank">komunitas bayangan yang terikat oleh teisme umum, ortodoks dan dimobilisasikan negara</a>.” Menchik mungkin benar, tapi nasionalisme yang saleh tidak otomatis membawa pada kekerasan. Di Malaysia, contohnya, pengadilan Syariat tingkat negara dapat memerintahkan individu yang ingin berpindah dari agama Islam, atau mereka yang menjadi pengikut kelompok terlarang, untuk masuk ke pusat rehabilitasi agama. Namun demikian, pemerintah juga melarang penggunaan kekerasan terhadap para anggota aliran kepercayaan ini, dan menghukum dengan keras para penyerang.</p>
<p>Mengapa intoleransi agama dan tindakan main hakim sendiri meningkat di Indonesia?</p>
<p>Pertama, meningkatnya kekerasan dapat dengan kuat dikaitkan dengan tindakan dari mantan Presiden Indonesia, Bambang Yudhoyono, purnawirawan jenderal yang memerintah negara ini dari tahun 2004 hingga 20 Oktober 2014.</p>
<p>Pada tahun 2005, Yudhoyono memulai masalah agama di negara ini dengan mendeklarasikan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebuah kelompok agama Sunni yang konservatif, adalah satu-satunya yang berwenang menginterpretasikan Islam, dan mengikrarkan pemerintahannya <a href="http://online.wsj.com/articles/SB10001424052702303775504579396030447465804" target="_blank">terbuka pada fatwa-fatwa mereka</a>.</p>
<blockquote><p>Intoleransi menjadi dilembagakan pada tingkat yang meng-khawatirkan, hak asasi manusia dari minoritas agama berada dalam ancaman, dan organisasi hak asasi manusia berjuang untuk melakukan pekerjaan mereka tanpa dapat memberikan perlindungan.</p></blockquote>
<p>MUI tidak membuang waktu. Dengan serta-merta mereka mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai “kelompok sesat”, dan bertindak melawan “pluralisme, liberalism, dan sekularisme”. Muslim Ahmadi memercayai enam rukun iman yang sama seperti Muslim Sunni, dengan perbedaan utama yaitu bahwa pengikut Ahmadi percaya bahwa kenabian monoteistik masih berlangsung (Sunni memercayai bahwa Muhammad adalah nabi terakhir yang dikirim oleh Tuhan). Dengan secara resmi Ahmadi ditetapkan sebagai sesat, contoh-<a href="http://www.theguardian.com/commentisfree/2014/feb/06/indonesias-growing-religious-intolerance-has-to-be-addressed" target="_blank">contoh pidato kebencian dan kekerasan terhadap Muslim Ahmadi meningkat dengan cepat</a>. Intoleransi menjadi dilembagakan pada tingkat yang mengkhawatirkan, <a href="http://www.theguardian.com/commentisfree/2013/dec/27/human-rights-are-under-attack-in-post-tsunami-indonesia" target="_blank">hak asasi manusia dari minoritas agama berada dalam ancaman</a>, dan organisasi hak asasi manusia berjuang untuk melakukan pekerjaan mereka tanpa dapat memberikan perlindungan.</p>
<p>Kemudian, di tahun 2008, situasi memburuk ketika tiga menteri—Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Jaksa Agung Hendarman Supanji—menerbitkan dekrit yang mengizinkan melarang ekspresi di depan publik secara mutlak kepada Muslim Ahmadi atas kepercayaan dan praktik agama mereka. Di tahun 2011, pemerintah Jawa Timur dan Jawa Barat (yang terakhir adalah provinsi dengan penduduk terpadat di Indonesia) menggunakan dekrit ini untuk langsung melarang eksistensi dan kegiatan Ahmadiyah. Sekarang, 25 dari pemerintahan daerah di negara ini melarang eksistensi kelompok sekte atau kepercayaan, dan sebagian besar pembatasan ini ditujukan kepada Ahmadiyah.</p>
<p>Selain itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, <a href="http://www.hrw.org/news/2013/06/30/indonesia-ensure-safe-return-home-evicted-shia-villagers" target="_blank">militan Sunni menggunakan kekerasan terhadap Muslim Syi’ah</a>, sebagian berdasarkan pada dekrit tahun 2012 yang diterbitkan oleh Majelis Ulama di Jawa Timur yang mendeklarasikan “penghujatan” ajaran Syi’ah. Pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan tindakan ini.</p>
<p>Aliansi mantan presiden Yudhoyono dengan MUI berasal dari perhitungan politik internal. Pencalonannya sebagai presiden ditolak oleh aktivis pro-demokrasi dan kelompok Muslim toleran, banyak dari mereka berkata bahwa latar belakang militer dan kurangnya rekam jejak demokrasi membuatnya tidak sesuai untuk pekerjaan ini. Yudhoyono dan sekutu politiknya lalu mendekati kelompok agama konservatif, termasuk MUI, dan meminta dukungan politik mereka. Sebagai balasan, Yudhoyono menjanjikan untuk memperlakukan doktrin MUI sebagai kebijakan.</p>
<p>Beberapa penasihat mantan presiden yang paling dipercaya adalah Muslim Sunni konservatif, termasuk Sudi Silalahi, diangkat sebagai sekretaris kabinet dan kemudian sekretaris negara. <a href="http://www.oocities.org/ambon67/noframe/gja2110y2k1.htm" target="_blank">Silalahi dilaporkan sebagai salah satu jenderal</a> yang mendukung <a href="http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2005/10/06/AR2005100601559.html" target="_blank">militan jihad yang berangkat ke Ambon</a> di tahun 1999 untuk menyerang ribuan Kristen Indonesia. Untuk mengatakan tidak terekam jejak pelanggaran HAM-nya sungguh meremehkan.</p>
<p>Diskriminasi pemerintahan Yudhoyono terhadap Ahmadiyah didorong oleh peran Ma’ruf Amin, ketua MUI, dan anggota  lembaga penasihat kepresidenan (Wantimpres) bidang hubungan antar-agama. Kekuasaan Amin tumbuh dengan cepat selama kepemimpinan Yudhoyono, dan ia mampu mentransformasikan ide-ide intolerannya menjadi kebijakan negara.</p>
<p>Akhirnya, mantan presiden itu mengangkat tokoh Muslim konservatif untuk menjalankan kementerian agama, mengubah departemen yang dulunya toleran menjadi departemen yang curiga kepada minoritas agama non-Sunni. Juga mengangkat Gamawan fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri yang dikehatui sangat konservtaif.</p>
<p>Sekarang ini, banyak yang berharap bahwa presidan baru Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo, akan membawa pemerintahan ke arah yang berbeda. Widodo, <a href="http://www.bbc.com/news/world-asia-28422179" target="_blank">yang menurut para pemilihnya adalah politisi yang “bersih”</a>, melakukan kampanye yang menjanjikan revolusi “mental” dengan perubahan yang menentukan dari kesewenang-wenangan dan intoleransi negara di masa lalu.</p>
<p>Untuk memastikan hal ini terwujud, pertama, Widodo harus menetapkan bahwa tidak seorang pun, gerakan, atau organisasi dapat menjadi satu-satunya yang berwenang menginterpretasikan agama, termasuk MUI. Berikutnya, ia harus menjamin bahwa doktrin agama tidak lagi digunakan sebagai justifikasi bagi perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. Jaminan ini perlu memasukkan revisi dari UU No. 1/PNS/1965, yang dengan eksplisit melarang “interpretasi yang menyimpang” dari ajaran agama dan mandat pembubaran organisasi yang menerapkan ajaran yang menyimpang. Akhirnya, Widodo harus menunjukkan komitmen yang jelas dari pemerintahannya untuk memberikan layanan yang sama, dan menjamin kebebasan beragama, kepada seluruh masyarakat Indonesia. Semua menteri dan penasihat seniornya harus dievaluasi pandangan dan rekam jejak agamanya, untuk mengeliminasi mereka yang memiliki catatan intoleransi.</p>
<p>Akhirnya, Widodo harus memperkuat pelaksanaan hukum, dan menghukum siapa pun yang menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri untuk alasan apa pun, termasuk alasan agama.</p>
<p>Jika Widodo tidak segera melakukan hal ini, Indonesia menghadapi risiko jatuh ke jalan yang berbahaya dan semakin parah.</p>
<p>_<br />
<strong>About the author</strong></p>
<blockquote><p><strong>Ahmad Sueady</strong> adalah Direktur Lembaga Islam Asia Tenggara (Institute of the Southeast Asian Islam) di Universitas Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia.</p></blockquote>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/agama-permainan-politik/">Agama sebagai permainan politik: meningkatnya intoleransi di Indonesia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="/">Warta Ahmadiyah</a>.</p>
<div class='yarpp-related-rss'>
<h3>Related posts:</h3><ol>
<li><a href="/oktober-2014-pidato-kenegaraan-jokowi-kecewakan-gusdurian/" rel="bookmark" title="[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian">[Oktober 2014] Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian </a></li>
<li><a href="/president-yudhoyonos-blind-side-religious-violence-indonesia/" rel="bookmark" title="President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia">President Yudhoyono’s blind side: Religious violence in Indonesia </a></li>
<li><a href="/agama-minoritas/" rel="bookmark" title="Mengolok-olok agama minoritas">Mengolok-olok agama minoritas </a></li>
</ol>
<p><div style="display:none;">YARPP powered by AdBistro</div><a href="http://www.yarpp.com" class="yarpp-promote" target="_blank">Powered by</a></p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warta-ahmadiyah.org/agama-permainan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
