W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Tag Archive | "Singapura"

[7 Desember 2014] Jalsah Salanah Singapura sukses dan lancar terlaksana

PUJI syukur ke hadirat Allah Taala, pada Ahad, 7 Desember 2014, menjadi hari suksesnya pelaksanaan pertemuan tahunan atau jalsah salanah Jamaah Muslim Ahmadiyah Singapura yang ke-27 tahun.

Lokasi jalsah berada di kompleks Masjid Taha, ia ada di bagian timur negara kota Singapura.

Panitia jalsah mengatakan, jalsah dihadiri hampir empat ratus orang termasuk 367 muslim Ahmadi dari negara-negara Asia Tenggara.

Jalsah berisi ceramah-ceramah rohani, silaturahmi dari hati ke hati, hingga shalat berjamaah.

Amanat khusus dari Hadhrat Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad atba. dibacakan pada awal pembukaan jalsah.

Selama acara ceramah-ceramah berlangsung, hadirin bisa menikmatinya dengan dua bahasa, yaitu Malaysia dan Inggris.

Jalsah Singapura juga dilengkapi studio MTA dan tenda khusus untuk tamu VIP berikut fasilitas-fasilitas kesehatan serta layanan pengobatan homeopati.

Para penceramah adalah para muballigh, hingga para amir maupun ketua nasional dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Hadir pula Mr. Peter Lee yang menyampaikan pesan khusus dari pemerintah Singapura untuk pelaksanaan jalsah salanah.

Mr. Lee Koon Choy, seorang politikus penting dan anggota dari lima parlemen utama di Singapura juga hadir.

Ada juga perwakilan dari Menteri Kebudayaan dan Agama dari Kamboja juga menyampaikan pengalamannya menghadiri jalsah. Ia berbicara dalam bahasa Kamboja.

Tak ketinggalam para delegasi Ahmadi dari mancanegara menceritakan kesan-kesan baiknya selama tiga hari berada di jalsah.

Adalah Ketua Panitia Jalsah Salanah, yaitu Mr. Syed Hafeez Ali, yang pada saat penutupan membacakan laporan akhir jalsah tersebut.[]

AhmadiyyaTimes | ARH | DMX WA

Posted in Dakwah, Mancanegara, NasionalComments (0)

Ahmadiyah sebagai pergerakan Islam menurut pahlawan nasional Tan Malaka

“…SEJARAH-Islam dalam lebih kurang 1.200 tahun sesudahnya Muhammad SAW (wafat) yakni sejarah yang condong pada politik seperti pengangkatan Imam baru, partai Ali atau meneruskan pilihan yang demokratis seperti pengangkatan Abu Bakar, Umar, dan Usman; perbedaan mazhabnya Imam Syafii, Hanafi, Hambali dan Maliki satu aliran Islam ke arah kegaiban (systisisme) pada satu fatihah (Imam Gazali) dan kenyataan (rationalisme), sampai ketiadaannya Tuhan-Tuhan (atheisme), pada lain pihak (moetazaliten); pergerakan Islam yang baru kita kenal sekarang seperti Wahabi, Muhammadiyah dan Ahmadiyah.”

Judul artikel aseli: “Tan Malaka, komunisme dan Islam dalam Madilog

MERDEKA.com (Selasa, 11 Februari 2014)–Rencana bedah buku dan diskusi Tan Malaka di C20 Library, Surabaya, Jawa Timur, Jumat pekan lalu, dilarang oleh pihak Kepolisian. Sebab, Front Pembela Islam (FPI) memprotes keras acara itu. Massa FPI bahkan menduduki depan C20 Library hingga malam hari untuk memastikan diskusi itu batal digelar.

Meski Tan Malaka adalah pahlawan nasional, FPI tak peduli. Menurut FPI, gelar pahlawan bagi Tan Malaka adalah versi dari PKI. Padahal, gelar pahlawan nasional diberikan langsung oleh Presiden Soekarno pada 1963.

“Itu kan versinya PKI. Tan Malaka itu kan pahlawannya orang-orang PKI, Tan Malaka itu kan tokoh Marxis,” kata Ketua Bagian Nahi Mungkar FPI Jawa Timur KH Dhofir di depan Gedung C20 Library.

Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan sejak Orde Baru berkuasa, paham komunis di Indonesia dilarang keras. Tak hanya itu, paham komunis juga diidentikan dengan atheis. Hal ini didasarkan pada kritik Karl Marx terhadap agama yakni ‘agama adalah candu bagi masyarakat.’ Kritikan itu dikeluarkan Marx terhadap agama Kristen yang saat itu mendoktrin umatnya pada etika ketertundukan.

Dalam etika itu, umat hanya bisa tunduk terhadap semua aturan yang diakui pihak gereja sebagai aturan yang berasal dari Tuhan. Alhasil, umat hanya bisa menerima penderitaan tanpa bisa berbuat apa-apa alias pasrah demi kebahagiaan abadi di surga.

Padahal, sikap tunduk pasrah tersebut sangat menguntungkan kaum kapitalis yang menguasai sendi-sendi perekonomian kala itu. Karena itu, Marx menilai agama digunakan oleh kelas kapitalis untuk kepentingan mereka.

Hal itu lantas menjadi salah satu dasar Marx mengusulkan lahirnya masyarakat komunis yang bertujuan untuk menghapus kelas-kelas dalam masyarakat. Penghapusan kelas tersebut akan menghilangkan penindasan antara kelas yang satu kepada kelas yang lain, dan menciptakan keadilan, persatuan, serta persaudaraan antar-sesama manusia di muka bumi.

Tan Malaka sendiri merupakan pahlawan bangsa yang menganut paham komunis. Jalan komunis digunakannya untuk melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan di muka bumi. Namun jika dihubung-hubungkan dengan PKI, meski pernah menjadi ketua, Tan Malaka justru tidak disukai oleh elite-elite PKI.

Sebabnya, Tan Malaka tak mendukung pemberontakan PKI 1926-1927 dan justru mendirikan Pari. Tan Malaka juga lepas hubungan dengan Moskow karena dia kecewa atas sikap Stalin yang dinilainya pragmatis dan mengambil keuntungan dari pemberontakan yang berujung gagal itu. Saking tak sukanya, Muso bahkan sempat berucap akan menggantung Tan Malaka jika bertemu.

Meski komunis tak berarti Tan Malaka adalah seorang atheis. Dalam tulisannya yang berjudul ‘Islam dalam Tinjauan Madilog’ tahun 1948, Tan Malaka banyak bercerita soal dirinya dan Islam dalam pandangan Madilog.

“Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat… Masih kecil sekali saya sudah bisa tafsirkan Al-Quran, dan dijadikan guru muda. Sang Ibu menceritakan Adam dan Hawa dan Nabi Yusuf. Tiada acap diceritakannya pemuka, piatu Muhammad bin Abdullah, entah karena apa, mata saya terus basah (menangis) mendengarnya. Bahasa Arab terus sampai sekarang saya anggap sempurna, kaya, merdu jitu dan mulia,” kata Tan Malaka.

Meski demikian, Tan Malaka mengakui tak terus mempelajari bahasa Arab ketika sudah dewasa. Namun, walau sudah berada di Belanda untuk sekolah, Tan tetap mempelajari semua yang berhubungan dengan Islam dan dunia arab. Dengan mengirit uang makan, Tan Malaka saat itu membeli berjilid-jilid buku sejarah Islam dan Arab. Tan memilih buku terjemahan bahasa Jerman ke Belanda karena dituliskan dengan lebih sempurna.

Meski saat itu ia sangat tertarik pada Revolusi Bolshevik 1917, tak berarti perhatiannya pada dunia Islam hilang. Selama di negeri kicir angin, Tan mengaku telah beberapa kali menamatkan terjemahan Alquran ke dalam bahasa Belanda.

“Dan diktatnya Almarhum Snouck Hurgroaje tentang Islam sudah saya baca. Baru ini di Singapura saya baca lagi terjemahan Islam ke bahasa Inggris oleh ‘Sales dan ahli timur Maulana Ali Almarhum,” kata Tan.

Dari semua sumber dan buku yang dibacanya itu, Tan mendapat kesimpulan perjalanan sejarah terpengaruh kepada faktor masyarakat, politik dan ekonomi. Hal itu terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW lahir dan setelah wafat.

“…Sejarah-Islam dalam lebih kurang 1.200 tahun sesudahnya Muhammad SAW (wafat) yakni sejarah yang condong pada politik seperti pengangkatan Imam baru, partai Ali atau meneruskan pilihan yang demokratis seperti pengangkatan Abu Bakar, Umar, dan Usman; perbedaan mazhabnya Imam Syafii, Hanafi, Hambali dan Maliki satu aliran Islam ke arah kegaiban (systisisme) pada satu fatihah (Imam Gazali) dan kenyataan (rationalisme), sampai ketiadaannya Tuhan-Tuhan (atheisme), pada lain pihak (moetazaliten); pergerakan Islam yang baru kita kenal sekarang seperti Wahabi, Muhammadiyah dan Ahmadiyah.”

Tan menyatakan salah satu pokok utama dalam Islam adalah soal keesaan Tuhan. Menurutnya, Nabi Muhammad mengakui kitab suci Yahudi dan Kristen. Nabi Muhammad juga mengakui Tuhan Nabi Ibrahim dan Musa. Tetapi, Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa harus dibersihkan dari pemalsuan yang dilakukan bangsa Yahudi dan Kristen di belakang hari.

Tan menilai Muhammad SAW adalah intan yang ada di tengah-tengah lumpur. Sebab, saat Muhammad lahir, masyarakat arab berada pada masa jahiliyah. Saat itu, perang saudara antar suku tak henti-hentinya terjadi. Di tengah kondisi alam yang panas dan kesulitan ekonomi, perampokan dan pembunuhan adalah pekerjaan yang lazim terjadi saat itu.

Meski lahir dari suku terpandang yakni Quraisy, Muhammad SAW nyatanya adalah seorang anak yang malang karena sudah biasa hidup dalam kesulitan. Muhammad sejak lahir dan kecil sudah ditinggal wafat ayah dan ibunya.

Menurut Tan, Tuhan bagi Nabi Muhammad berada di mana-mana dan dalam rohani, bukan berbentuk benda seperti berhala. Karenanya, dalam Islam Allah tidak diwujudkan dalam suatu benda apapun.

Pengaruh Islam dan Nabi Muhammad tersebut, menurut Tan, menjalar ke agama Kristen. Hal ini dapat dilihat pada aliran Protestan yang memandang Tuhan sebagai rohani tak lagi harus dengan simbol patung Yesus Kristus.

“Jadi pada Protestan nyata pengaruh Islam buat seseorang yang tiada digelapi oleh dogma (kepercayaan) agamanya sendiri. Muhammad bin Abdullah menganggap Tuhan itu semata-mata rohani dan berada di mana-mana. Seseorang Muslim bisa bersambung langsung dengan Dia, tiada perlu memakai kasta Rabbi atau pendeta sebagai perantaraan atau sebagai tengkulak. Kelangsungan perhubungan manusia dan Tuhan itulah yang menjadi salah satu perkara buat Protestan umumnya, Cromwell dan tentaranya khususnya ketika berperang dengan partai Katholik dan raja-raja Katolik. Ini terjadi juga sesudah lebih kurang seribu enam ratus lima puluh (1650) tahun sesudah Nabi Isa wafat atau lebih kurang 1.000 tahun sesudah Nabi Muhammad wafat. Pun di sini nyata buat orang yang berpikiran objektif (tenang) pengaruhnya Islam atau Nasrani seperti juga pada Yahudi,” katanya.

Tan mengatakan, agama Islam yang disiarkan oleh Muhammad SAW berasal dari agama Kristen dan Yahudi. Namun, Muhammad tak mengambil mentah-mentah kedua agama tersebut, melainkan dengan perbaikan di berbagai bidang. Dalam perjalanannya, keesaan Tuhan Nabi Muhammad terus konsekuen diyakini dan diterapkan oleh umat muslim.

“Tidak saja Muhammad bin Adullah mengambil pokok besarnya agama Yahudi dan Kristen, tetapi pada kemudian harinya Yahudi dan Nasrani juga walaupun resminya tak mau mengaku terus terang mengambil sifat baru dari Islam. Demikianlah pada Muhammad SAW ‘ketunggalan’ Tuhan itu ke Esaan Tuhan itu sampai ke puncak tak ada kesangsian seperti melekat pada agama Nasrani pada masa Muhammad SAW. Tentangan, terhadap agama Nasrani itu dikeraskan dan dijelaskan pada satu Juz yang pendek (dalam Alquran), tetapi dianggap penting sekali oleh Muslimin: Bahwa Tuhan tunggal tak memperanakkan (Nabi Isa) dan tidak diperanakan,” kata Tan Malaka .

Tan melihat kepercayaan Islam terhadap takdir Tuhan juga diadopsi oleh Calvin bapaknya Mazhaf Protestan pada abad ke 17. Di dalam Islam, manusia tak boleh takut menghadapi bahaya apa pun. Sebab, perjalanan tiap manusia sudah ditentukan oleh Allah.

“Oliver Cromwell dan tentaranya di Inggris yang diakui paling nekat oleh sejarah Barat juga mengikuti kepercayaan ini, pun disini tak bisa dibantah pengaruhnya Islam pada dunia Kristen,” kata Tan Malaka .

Alhasil, Tan Malaka berpendapat, seorang pemikir ulung dan konsekuen yang mengesakan Tuhan harus mengesakan kekuasaan Tuhan pula. Sebab, dengan demikian kekuasaan Tuhan menjadi sempurna.

“Kalau seketika satu saja kekuasaan dikurangi dipindahkan pada anaknya seperti pada nabi Isa, (anaknya Tuhan) atau Maryam, dan sedetik saja kekuasaan si Atom itu bisa dipegang di luar Tuhan dengan tidak izinnya Tuhan, maka kekuasaan Tuhan itu tiada absolute sempurna lagi. Walaupun si Atom dalam sedetik kalau bisa dikurangi maka kesempurnaannya dikurangi pula bukan? Itulah maka saya anggap bahwa Agama Monotheisme Nabi Muhammad yang paling konsekuen terus lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika maka Muhammad yang terbesar di antara nabinya monotheisme,” kata Tan.

“Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari undang (hukum) alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama itulah pula undangnya Alam Raya itu berlaku. Menurut undang Alam Raya itu bendanya itulah yang mengandung kodrat dan menurut undang itulah caranya benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan sebagainya. Kodrat dan undangnya yang berpisah sendirinya tentulah dikenal oleh ilmu bukti. Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang di luar Alam Raya ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah di luar daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh ke arah kepercayaan semata-mata. Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecondongan persamaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri. Dalam hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya junjung,” kata Tan Malaka.

Posted in UncategorizedComments (0)

Bupati Wonosobo: Dunia harus berterima kasih kepada Khalifah

WONOSOBO, Selasa (28/1/14) pukul 09:30 WIB—Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Muslim Television Ahmadiyah (MTA) telah bersilaturahmi kepada Bupati Wonosobo Drs. H. Abdul Kholiq Arif, M.Si. di pendopo.

Tim silaturahmi terdiri dari kontributor TV Muslim (MTA) Munawar Aziz, S.H., Muballigh Wilayah JAI Jateng-Tengah Maulana Nurhadi Read the full story

Posted in NasionalComments (0)

sejarah-ahmadyah-indonesia

Ahmadiyah dalam Sejarah dan Kasus

UTUSAN pertama Ahmadiyah Lahore dari India bernama Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad dan datang ke Indonesia bertepatan dengan kongres ke-13 Muhammadiyah di Yogyakarta pada bulan Maret 1924. Dalam kongres tersebut, utusan ini diberi kesempatan berbicara dan mengatakan bahwa Sang Mesias (Ratu Adil) sepeninggal Kanjeng Nabi Muhammad adalah Mirza Ghulam Ahmad. Read the full story

Posted in Nasional, PerspektifComments (0)

Pidato Bersejarah Pemimpin Komunitas Muslim Ahmadiyah di Singapura

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyerukan ditegakkannya keadilan di segala lini
Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013

PEMIMPIN dunia Jemaat Muslim Ahmadiyah, Khalifah kelima, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidatonya di Acara Penyambutan yang diadakan di Hotel Oriental Mandarin di Singapura pada tanggal 26 September 2013 sore hari. Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 tamu dan pejabat non-Ahmadi, termasuk Lee Koon Choy pendiri Partai Aksi Rakyat yang juga terkenal sebagai duta besar Singapura di berbagai negara.

Dalam pidatonya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan tentang dasar keadilan ekonomi, kebutuhan akan kesetaraan antar negara, kesalahpahaman akan ajaran Islam, dan perhatiannya akan meningkatnya resiko Perang Dunia ketiga.

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 2

Ia memulai pidatonya dengan citra negatif saat ini akan wajah Islam. Dia mengatakan bahwa wajah agama Islam menjadi buruk di seantero dunia akibat tindakan penuh kebencian dari beberapa orang yang menyebut dirinya Muslim hanya untuk kepentingan pribadinya.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Banyak masyarakat dunia saat ini berpendapat bahwa Islam adalah agama yang ekstrim dan penuh dengan kekerasan. Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa itu sama sekali salah dan tak sesuai dengan kenyataan. Kenyataannya adalah ada beberapa orang Islam yang egois yang melakukan kekerasan demi kepentingan pribadi mereka. Demi ambisi dan hasrat pribadi, mereka menafsirkan ajaran Islam dengan jalan yang salah, yang menyebabkan tuduhan tak mendasar dan menggeneralisir agama Islam. Tindakan mereka telah menodai agama Islam meskipun kenyataannya Islam menyediakan pikiran yang rasional dan logis untuk terbangunnya keadilan.”

Tentang makna perekonomian yang sukses, Ia mengatakan bahwa Islam mempromosikan keadilan di segala level.

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 3

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Islam mengajarkan bahwa sumber daya alam diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.. Kekayaan alam yang Allah berikan amat melimpah ruah, baik di atas ataupun di bawah lapisan bumi, yang seharusnya digunakan untuk kemakmuran seluruh umat manusia di muka bumi, bukan hanya bagi kekayaan segelintir individu.”

Berbicara tentang pentingnya pendidikan, Hazrat Mirza Masroor mengatakan bahwa akses yang merata amatlah diperlukan.

“Islam mengajarkan bahwa setiap anak, tidak peduli apapun latar belakangnya, harus mendapatkan pendidikan yang layak supaya mereka dapat mengembangkan bakat dan kemampuan mereka sehingga berguna bagi masyarakat. “

Tentang hubungan antar negara-negara dunia, ia mengatakan bahwa perdamaian antar bangsa hanya dapat diraih melalui keadilan yang diterapkan di setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara dan negara maju harus membantu negara berkembang dengan adil, tidak egois demi kepentingan mereka saja.

“Persekutuan dengan negara-negara tertentu seharusnya tidak berpengaruh pada kebijakan akan membantu atau tidak negara lain. Favoritisme dalam segala bentuk tidak seharusnya terjadi – tujuan menolong negara lain seharusnya agar mereka pada akhirnya dapat berdiri di kaki sendiri. Ketidakadilan tidak boleh terjadi, di mana subuah negara tidak akan dibantu sebelum ia memenuhi tuntutan tertentu atau menyetujui untuk mengerluarkan kebijakan hubungan tertentu dengan negara ketiga.”

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 5

Mengenai ketidaksetaraan Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa kesenjangan anatara yang miskin dengan yang kaya akan terus berlanjut:

“Amat disayangkan, kita melihat bahwa lebih dari 60 tahun setelah dibentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara miskin tertinggal tetap melarat dan kekurangan, sementara negara maju semakin kaya dan berkuasa. Islam menjelaskan bahwa sebab mendasar dari langgengnya ketidaksetaraan adalah bahwa orang-orang tak memahami bahwa sumber kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia ditujukan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menawarkan sebuah solusi global untuk meminimalisir ketidaksetaraan:

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 6

“Islam mengajarkan kita tentang hubungan antar negara yang baik, yang terjalin dengan damai dan harmoni, hanya dapat terwujud oleh kerja bersama untuk tujuan yang lebih baik. Negara miskin hars memenuhi tanggung jawab mereka sendiri dan bekerja keras untuk memerdayakan sumber daya yang mereka miliki. Di sisi lain, negara kaya harus menunjukkan semangat sejati mereka untuk berkorban menolong saudara-saudara mereka.”

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 7

Khalifah menutup pidatonya dengan kekhawatirannya akan Perang Dunia yang bisa meletus sewaktu-waktu.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Jika kita menilik sejarah, kita sadari bahwa faktor utama yang menyebabkan Perang Dunia pertama dan kedua adalah situasi ekonomi dan tempat di mana kita tinggal pasti terkena juga dampaknya. Kenyataannya akan sangat sulit untuk memprediksikan siapa yang akan aman siapa yang akan dalam bahaya. Kita hanya dapat berdoa dan menunjukkan usaha dan harapan kita kepada khalayak dalam membangun perdamaian dan menyelamatkan dunia dari kerusakan dan marabahaya. Ini adalah hal yang esensial supaya kita tidak dipandang dengan kemarahan dan orang yang bersalah oleh generasi selanjutnya.”

Mirza Masroor Ahmad Resepsi di Singapura 2013 8

Lee Koon Choy juga memberikan pidatonya kepada hadirin bahwa ia telah melihat bagaimana wajah Islam telah ternodai beberapa dekade ini sehingga ia mengapresiasi usaha Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam menyebarkan cahahya kebenaran dan kedamaian ajaran Islam ke seluruh dunia.

Sebelum acara, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menggelar pertemuan dengan berbagai pejabat yang juga diliput oleh perwakilan media dari Indonesia. Ia juga menghadiri empat acara amal lokal atas nama Jemaat Muslim Ahmadiyah di Singapura.

Diterjemahkan dari : http://www.alislam.org/egazette/press-release/head-of-ahmadiyya-muslim-community-delivers-historic-address-in-singapore/

Posted in MancanegaraComments (0)

Jemaah yang mesti rela menyimak khuthah Khalifah melalui layar televisi. (Foto: Ahmad Luthfie)

Khalifah Ahmadiyah Pompa Semangat Warganya

SINGAPURA (KRjogja.com) – Pimpinan Komunitas Muslim Ahmadiyah Internasional, Khalifa-tul Masih V Hadhrat Mirza Masroor Ahmad memompa semangat warganya untuk terus berjuang dan pantang menyerah. Sedang kepada mereka yang telah menganiaya warganya, bahkan mensahidkan, diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Wejangan ini disampaikan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Thaha Jalan Onan Singapura, Jumat (27/09/2013). Pada kesempatan ini ribuan jemaah Ahmadiyah se-Asia Tenggara berkumpul, di masjid milik Ahmadiyah Singapura ini tidak mampu menampung jemaah yang sampai meluber. Bahkan untuk menyimak khutbah banyak yang harus rela dengan melihat melalui layar televisi atau screen yang sudah dipersiapkan.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad juga mengingatkan segenap warganya untuk senantiasa tunduk-sujud ke hadirat Allah SWT dan mencintai Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan kecintaan terhadap Allah dan Rasulnya ini yang akan menambah kuat keimanan dan keyakinan.

“Marilah kita memberi contoh yang baik sehingga semua orang bersimpati kepada kita. Mari kita wujudkan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin atau memberi rahmat untuk sekian alam semestan” katanya. (Fie)

Sumber : http://krjogja.com/read/188611/khalifah-ahmadiyah-pompa-semangat-warganya.kr

GAMBAR: Jemaah yang mesti rela menyimak khuthah Khalifah melalui layar televisi. (Foto: Ahmad Luthfie)

Posted in MancanegaraComments (0)

Khalifah Ahmadiyah Kumpulkan Tokoh se-Asia Tenggara

SINGAPURA (KRjogja.com) – Khalifah ke -5 Komunitas Jemaat Ahmadiyah se-dunia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad tokoh berbagai latar belakang dalam suatu pertemuan di Hotel Mandarin Oriental Singapura, Kamis (26/09/2013) malam. Pertemuan digelar secara santai sambil makan malam. Read the full story

Posted in Mancanegara, RabthahComments (0)

Sebuah Mimpi dari Singapura

AWAN hitam yang cukup tebal menyelimuti Bandar Udara Changi, Singapura. Kaca jendela pesawat AirAsia tampak basah. Setelah terbang sekitar dua setengah jam dari Makassar, pesawat mendarat dengan baik. Pak Ibnu Sidi Umar, tokoh dan aktifis Ahmadiyah, bersama putranya, Budiman yang kuliah di Singapura, menjemput saya dan isteri di pintu keluar bandara.

Tak lama kemudian diantar oleh Budiman. Mobil melaju menembus hujan yang mengguyur Singapura menuju Hotel “V” di kawasan Lavendar. Di hotel, sudah ada Pak Anis Ahmad dan isteri, orang Ahmadiyah Jakarta, menunggu dan mengurus kamar kami. Bukan hanya kami, tapi puluhan kalau tidak ratusan tamu undangan dari Indonesia juga ditempatkan di hotel tersebut.

Banyak sekali orang-orang bukan-Ahmadiyah dan bukan-Muslim dari Jogyakarta, Jakarta, Makassar, dan kota lain di Indonesia. Juga dari Malaysia, Myanmar, dan negara lainnya, selain Singapura, yang datang sebagai tamu undangan. Sebuah hotel lainnya, tak jauh dari Mesjid Toha Ahmadiyah, juga menampung jemaat Ahmadiyah dan tamu mereka.

Orang-orang itu datang ke Singapura dalam rangka perhelatan akbar “Simposium dan Mulaqat Perdamaian” yang diselenggarakan oleh Ahmadiyya Muslim Community (AMC). Disebut akbar, bukan saja karena ratusan atau ribuan orang yang hadir, tapi terutama karena dihadiri Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih ke-5, Pemimpin umat Muslim Ahmadiyyah sedunia yang berkedudukan di London.

Saya mendapat kehormatan untuk duduk di samping kiri Hadhrat Khalifatul Masih pada acara Mulaqat (Silaturrahmi) makan malam di Hotel Mandarin Oriental di depan para undangan lainnya. Duduk di samping Hadhrat Khalifatul Masih, saya manfaatkan untuk bercakap dengannya lebih dari hati ke hati dari dua orang Muslim. Dengan tulus saya katakan kepada beliau, rasa terima kasihku yang tak terhingga atas undangan dan kehormatan yang diberikan.

Sebelum makan malam dihidangkan, Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan pidato yang menguraikan tentang kebajikan-kebajikan dalam ajaran Islam. Kedamaian sebagai tema simposium adalah dambaan semua manusia. Namun, kenyataannya, kedamaian menjadi sesuatu yang amat mahal pada beberapa negeri muslim.

Dunia Islam

Pada sisi lain, orang-orang Muslim belum mengenal sesama diri mereka, terutama mazhab-mazhab dan aliran-aliran mereka. Ketidaksalingmengenal atau keterasingan sesama Muslim itulah yang menjelaskan, kenapa sesama muslim atau sesama negeri Muslim saling mencerca dan bertengkar. Mereka seperti musuh besar antara yang satu dan yang lainnya.

Kepada Khalifatul Masih saya katakan bahwa peta dunia Islam sekarang ada tiga yakni: dunia Islam Ahmadiyah, Syiah, dan Sunni. Beliau tidak membantah ketiga peta tersebut, namun berkomentar bahwa Muslim Ahmadiyah tidak terpecah-pecah kepada firqah-firqah atau sekte-sekte sebagaimana yang terjadi pada Syiah dan Sunni. Saya mengiyakan komentar beliau.

Sebenarnya perpecahan di kalangan sesama Syiah atau sesama Sunni lebih disebabkan oleh perbedaan di antara mereka dalam aspirasi politik atau haluan negara di mana ummat Syiah atau Sunni hidup sebagai warga negara. Dalam soal agama, perbedaan mendasar antara Muslim Ahmadiyah dan Muslim bukan-Ahmadiyah ialah keyakinan Muslim Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, adalah nabi atau pembaru yang dijanjikan kedatangannya pada akhir zaman berdasarkan naskah-naskah suci.

Perbedaan antara Muslim Syiah dan Muslim bukan-Syiah ialah keyakinan Muslim Syiah bahwa kepemimpinan kaum Muslimin setelah Nabi Muhammad adalah berdasarkan wasiat Nabi yang menunjuk Ali bin Abi Thalib, dan selanjutnya kepemimpinan itu diteruskan oleh anak keturunannya. Keyakinan Syiah ini disebut dengan prinsip Imamiyah.

Sebenarnya tidak otomatis seorang muslim disebut Sunni kalau dia tidak menganut keyakinan Ahmadiyah dan Syiah tersebut. Pada zaman sekarang, terdapat orang-orang Muslim, banyak di antaranya adalah kalangan terdidik-terpelajar, tidak tertarik untuk memetakan kemusliman mereka kepada Ahmadiyah, Syiah, dan Sunni. Bagi generasi ini, sudah cukup kalau mereka berkata bahwa “saya Muslim”.

Ke Indonesia

Saya melihat mata Hadhrat Khalifatul Masih tajam memerhatikan wajahku ketika kubilang kepadanya: “Saya sangat berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, Allah mengizinkan dan memberi kesempatan kepada Hadhrat Khalifatul Masih untuk berkunjung ke Indonesia, negeri yang sudah mengenal kehadiran Ahmadiyah di Indonesia sejak tahun 1940-an. Saya percaya, kehadiran Yang Mulia Khalifah Ahmadiyah ke Indonesia akan meluaskan pandangan kita semua sebagai umat Allah di bumi-Nya yang luas ini”.

Saya sadar bahwa lawatan Hadhrat Khalifatul Masih kali ini adalah ke negara-negara Persemakmuran. Ahad kemarin, beliau ke Australia. Artinya, besar dugaan bahwa keamanan beliau di dalam pengawasan negara-negara Persemakmuran, khususnya Inggris. Bolehkah Pemimpin Ahmadiyah itu juga mendapat jaminan keamanan di Indonesiaku, negeri di mana kelompok warga yang minoritas belum merasa nyaman ber-Indonesia, bahkan polisi pun menjadi sasaran tembak orang kriminal? Seraya mengangguk-angguk dan dengan tersenyum simpatik itulah respons Hadhrat Khalifatul Masih atas “undangan”ku agar beliau mau ke Indonesia.

Seraya mencicipi hidangan keempat, “Roasted chicken with crispy shallot and curry leaf”, dan setelah membaca daftar empat lagi hidangan yang akan menyusul, Hadhrat Khalifatul Masih meletakkan tangannya di atas pahaku dan berbisik: “Beginilah acara makan malam di hotel, kita harus sabar melewati waktu yang amat panjang untuk menikmati setiap sesi hidangan yang dihidangkan”.

Minuman terus dituangkan ke gelas setiap kali isi gelas berkurang. Setelah hidangan kedelapan (terakhir), yaitu “Chocolate fondant”, sudah kami cicipi, Hadhrat Khalifatul Masih berdiri dari kursinya, isyarat acara makan malam sudah usai. Saya dan segenap undangan ikut berdiri menyambut salam penutup dan perpisahan dari Pemimpin Ahmadiyah itu.

Saya menjabat tangannya dan mendoakan keselamatan perjalanannya ke Australia dan pulang ke London. “Terima kasih!”, katanya berulang-ulang. Pemimpin sebuah kutub dunia Islam itu, Hadhrat Khalifatul Masih akan terbang ke Australia melintasi Indonesia, negeri yang kucintai, meski di situ, ummatnya, orang-orang Muslim Ahmadiyah, dan juga orang-orang Muslim Syiah, belum menghirup udara kemerdekaan beragama yang benar-benar sehat.

Duduk bersama isteriku di atas taksi yang mengantar kami pulang ke hotel, sebuah mimpi boleh dirancang; perhelatan akbar Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah di Indonesia! Semoga Allah mengizinkan! (QM).

Oleh:
M Qasim Mathar
Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2013/10/01/sebuah-mimpi-dari-singapura.
Gambar ilustrasi dari Alislam.org.

Posted in Mancanegara, Nasional, RabthahComments (0)

@WartaAhmadiyah

Tweets by @WartaAhmadiyah

http://www.youtube.com/user/AhmadiyahID

Kanal Youtube

 

Tautan Lain


alislam


 
alislam


 
alislam


 
alislam

Jadwal Sholat

shared on wplocker.com